Rabu, 08 Juni 2016

Islam Wetu Telu Di Lombok

ISLAM WETU TELU DI LOMBOK
Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Makalah
Dalam Mata Kuliah Agama Lokal
Dosen Pembimbing ; Siti Nadroh, MA






Disusun Oleh :
Nur Kholis Swandy
Qonita
Rahmat Fajri Al-Azis


Program Studi Perbandingan Agama
Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2016

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugrahkan nikmat dan karunianya sehingga kita, manusia merupakan makhluk yang paling utama dan sebaik-baiknya ciptaan dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Dengan karunia berupa potensi akal itulah kami dapat mengaktualisasikannya dalam bentuk kecil berupa makalah ini.
Makalah dengan judul “Islam Wetu Telu di Lombok” ini adalah makalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Agama-Agama Lokal dalam program studi Perbandingan Agama. Makalah ini menghidangkan kepada pembaca penjelasan singkat tentang kepercayaan wetu telu, sejarah, tokoh-tokoh serta pendirinya, pokok-pokok kepercayaan, konsepsi kepercayaan wetu telu, ritual dan praktek keagamaan dan juga interaksi kepercayaan penganut Islam wetu telu dengan agama-agama lain.
Selanjutnya, ucapan terimakasih yang tiada terkira kami ucapkan kepada semua elemen sosial, fasilitas akademis, referensi dan lain sebagainya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan tugas mulia ini.
Last but not least, ucapan maaf juga ringan terucap dari lisan ini apabila pembaca banyak menemukan kesalahan dalam ranah kontens maupun penulisannya. Karena semua yang baik hanyalah datang dari Allah, dan yang buruk datangnya dari setan dan kami manusia hanyalah korban.

Billahittawfiq wal hidayah
Wassalamualikum Wr. Wb

Ciputat, 17 Maret 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Aliran wetu telu adalah salah satu bentuk paham dalam Islam yang khas dan hanya terdapat di Lombok.
Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal pergi ke gunung Rinjani, roh itu bisa kembali pada waktu-waktu tertentu atau bila diperlukan ke rumah anak cucu atu keluarganya yang lain.
Kemudian Islam yang masuk ke dalam sistem ajaran agama pada waktu penyebaran Islam berlangsung di Bayan. Akibatnya adalah Islam dan adat adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.[1]
Sebegitu besar pengaruhnya terhadap perilaku masyarakat Bayan, apakah sebenarnya kepercayaan wetu telu itu? Sehingga masyarakat Bayan dapat menganutnya sebagai kepercayaan lokal setempat? Lalu, dari mana kepercayaan wetu telu itu berasal, sejarah, pendiri dan tokoh-tokohnya itu muncul, sehingga kepercayaan ini dianggap relevan atau sesuai dengan kultur masyarakat dan masih ada sampai sekarang?
Makalah kecil ini mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas yang menurut penulis paling fundamen dalam keagamaan masyarakat pada umumnya.

B.       Rumusan Masalah
·      Apakah yang dimaksud dengan kepercayaan wetu telu, sejarah, tokoh-tokoh serta pendirinya?
·      Apa saja pokok-pokok kepercayaan dan keagamaan dalam kepercayaan wetu telu?
·      Bagaimana konsepsi kepercayaan wetu telu?
·      Bagaimana interaksi kepercayaan penganut Islam wetu telu dengan agama-agama lain?

C.      Tujuan Penulisan
·      Mengetahui apa yang dimaksud dengan kepercayaan wetu telu, sejarah, tokoh-tokoh serta pendirinya.
·      Mengetahui pokok-pokok kepercayaan dan keagamaan dalam kepercayaan wetu telu.
·      Memahami konsepsi kepercayaan wetu telu.
·      Mengetahui interaksi kepercayaan penganut Islam wetu telu dengan agama-agama lain.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Geografis Lombok dan Asal Usul Nama Wetu Telu
Di antara kepulauan Indonesia, Lombok terletak di sebelah timur Bali dan di sebelah barat Sumbawa. Pada bagian barat, terletak selat Lombok dan pada bagian timur, terdapat selat Alas. Di sebelah utara Lombok juga berbatasan dengan Laut Jawa dan di sebelah timur lautan Indonesia di bagian selatannya.
Provinsi NTB terdiri dari enam kabupaten dan satu kotamadya. Enam kabupaten itu adalah Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur yang terletak di pulau Lombok dan Sumbawa, Dompu, dan Bima yang terletak di pulau Sumbawa. NTB merupakan daerah dengan luas sekitar 2,015,315 kilometer dan mempunyai penduduk sekitar 3,369,649 yang tersebar secara tidak merata di keenam kabupatennya. Lebih dari 70% atau sekitar 2.4 juta penduduk NTB  bermukim di Lombok.
Lombok sendiri merupakan kawasan dengan luas 470,000 kilometer atau hampir seperempat dari luas provinsi NTB. Lombok Barat dengan penduduk berjumlah 859,273 orang merupakan kabupaten dengan penduduk paling padat.[2]
Kecamatan Bayan berada diujung utara Pulau Lombok, dan kira-kira berjarak 80 km dari pusat ibu kota provinsi. Untuk mencapainya dari arah Mataram atau Ampenan, maka harus melewati Lombok Barat dan beberapa kecamatan lain seperti Tanjung, Pemenang, Kayangan, dan Gangga.
Wilayah Bayan terbentang di sebelah utara Laut Jawa, berada di sebelah barat selat Lombok dan kabupaten Lombok Barat. Sebagian wilayah Bayan adalah pantai, tapi sebagian lain wilayahnya adalah pegunungan. Dengan posisi geografis seperti itu, maka Bayan dan Lombok Utara sangat strategis sebagai jalur perhubungan laut dan daerah tujuan wisata dan turisme.
Selama puluhan tahun Bayan termasuk wilayah Lombok Barat namun pada tahun 2008 terjadi pemekaran wilayah dan Bayan kini menjadi bagian dari kabupaten Lombok Utara, NTB. Kecamatan Bayan memiliki luas wilayah 366,10 kilometer dengan total penduduk 47,01 jiwa. Dari aspek penduduk Muslim berjumlah 45,382 orang, Prostestan 8 orang, Hindu 326 orang, dan Budha 1,325 orang. Sejauh ini tidak ada data mutakhir berapa jumlah resmi penganut adat dan kepercayaan wetu telu di Bayan. Namun sebuah sumber di Bayan menjelaskan bahwa mayoritas penduduk yang mengaku muslim di Bayan adalah penganut wetu telu yang dianut oleh kurang lebih 95% penduduk muslim Bayan. Namun ini hanyalah sekedar estimasi di lapangan karena hampir semua penduduk Bayan meskipun mereka menganut paham wetu telu tapi mereka tetap mengakui Islam sebagai agamanya.[3] 
Sasak adalah penduduk asli dan kelompok etnik mayoritas Lombok. Mereka meliputi lebih dari 90% dari keseluruhan penduduk Lombok.
Wetu telu adalah orang Sasak yang meskipun mengaku sebagai Muslim, terus memuja roh para leluhur, berbagai dewa roh dan lain-lainnya di dalam lokalitas mereka. Dalam kehidupan sehari-hari mereka cenderung mengabaikan praktek Islam yang rutin yang dianggap wajib oleh kalangan waktu lima. Adat memainkan peran dominan di kalangan komunitas wetu telu, dan dalam beberapa hal praktek adat bertentangan dengan Islam. Meskipun mereka menyadari aturan-aturan adat tertentu, sepertinya memberi penghormatan kepada leluhur di kuburan dan memuja roh-roh mereka, jelas berlawanan dengan hukum Islam, kalangan wetu telu memeliharanya sebagai bagian dari tradisi keagamaan mereka. Wetu telu tidak menggariskan suatu batas yang jelas antara adat dan agama. Karenanya adat sangat bercampur-aduk dengan agama lokal.[4]

Filosofi Nama Wetu telu
Aliran wetu telu adalah salah satu bentuk paham dalam Islam yang khas dan hanya terdapat di Lombok.
Adat Bayan tercermin pada filosofi wetu telu (wetu artinya keluar atau lahir, dan telu artinya tiga). Bilangan tiga ini kemudian selalu diulang-ulang dalam melihat dan memahami realitas. Menurut kosmologi Bayan, makhluk hidup terbagi tiga: 1). Yang lahir seperti manusia atau hewan, 2). Yang bertelur seperti ayam dan bebek, 3). Yang tumbuh seperti tumbuhan. Demikian juga waktu: masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Alam juga terbagi tiga: alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat. Kepercayaan pada yang serba tiga ini berasal dari tradisi animisme dan Hindu-Buddha yang masuk ke dalam struktur adat.[5]
Wetu telu didefinisikan secara berbeda-beda sesuai dengan penafsiran masing-masing kelompok, diantaranya sebagai berikut:
·      Kelompok Islam wetu telu sendiri memberi batasan sebagai “proses kejadian makhluk di alam semesta”.
·      Seorang pakar dari Belanda menyebut wetu telu sebagai bentuk kepercayaan zaman Majapahit yang terkena pengaruh ajaran Islam. Menurut kenyataannya, wetu telu adalah sekelompok masyarakat Islam yang belum menyempurnakan syariat atau ajaran agamanya.[6]
Beragam pendapat menggapa aliran atau paham ini disebut sebagai wetu telu antara lain sebagai berikut:
a.   Disebut penganut wetu telu  karena sumber ajaran segala sesuatu mereka perbuat berasal dari tiga pokok, ushul, tasawuf, dan fiqih.
b.   Seorang tokoh adat di lombok timur bernama Pe Rumedi mengatakan disebut wetu telu karena segala sesuatu yang ada diatas dunia ini terdiri dari tiga unsur adat, yaitu : 1. Unsur adat manusia meliputi kelahiran, perkawinan, dan kematian. 2. Unsur pade (padi), tentang cara penanaman padi yang tidak boleh menyimpang dari adat yang sudah ditentukan oleh nenek moyang. 3. Unsur adat agama menyangkut keyakinan terhadap pemahaman agama Islam yang mengacu pada al-Qur’an dan Hadis Nabi.
c.   Seorang pemangku adat di Sembalun bernama  Pe Misnip, ia mengatakan bahwa istilah wetu telu tidak ada sangkut pautnya dengan agama dan digunakan pada pelaksanaan upacara penanaman padi yang berkisar tanggal 3 atau tiga waktu tertentu. Yakni; 1. Tanggal 5 Syafar dilakukan penurunan bibit padi dari lumbung. Lalu bibit ini disiram dengan air yang diambil dari “sumur zamzam”, yakni atas sebuah sumber mata air; 2. Tanggal 15 Sya’ban, dilakukan upacara “benija” kemakam  “kompu”. Air yang mereka bawa dari makam terebut digunakan sebagai obat pembasmi hama tanaman padi yang akan dibuahi; 3. Tanggal 25 Zulkai’dah dilakukan upacara terahir yakni “memakdung Oda’-oda”  di makam “Reban Bande” untuk menyatakan rasa syukur atas keberhasilan menanam padi.
d.  Di daerah Bayan Lombok Barat disebut wetu telu karena pada diri manusia ada tiga sidat hasil “perasan” dari 20 sifat Allah, yaitu sifat-sifat dari Allah, sifat-sifat Adam dan sifat Hawa.
e.   Dikatakan wetu telu  karena penganutnya hanya mengerjakan 3 macam sholat saja, yaitu sholat Jum’at, sholat Hari Raya dan sholat Jenazah.
f.    Di desa Lembuak, Lombok Barat mengangap bahwa sebutan wetu telu karena didasarkan pada pembagian martabat 3 yakni:
Asmak                                Sifat                            Zat
Wahidiyah                          Wahadah                     Ahadiah
Adam                                  Muhammad                 Allah[7]

Pada prinsipnya, istilah Islam wetu telu datang dari luar dan masyarakat adat penganut ajaran yang disebut wetu telu ini mengaku beragama Islam dan telah menganut ajaran ini selama ratusan tahun.[8] Akan tetapi, masalah tentang asal mula wetu telu ini banyak yang berbeda pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari pemeluknya dan ada pula menolak anggapan tersebut. Namun, pandangan yang mengatakan bahwa istilah wetu telu muncul dari mereka sendiri sulit diterima yaitu karena beberapa hal.
Pertama, para pengikutnya berbeda-beda menyebut faham mereka sesuai dengan perbedaan daerah. Bahkan tidak sedikit yang keberatan dengan sebutan ini yang sering dihubungkan dengan praktek ajaran Islam yang tidak sempurna, dan berbeda dengan apa yang mereka anut yaitu  berdasarkan ajaran Islam yang benar dan telah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang mereka.
Kedua, menurut keterangan para pemuka kepercayaan wetu telu, penyebutan istilah wetu telu ini berasal dari kelompok yang merasa telah menjalankan ajaran Islam secara benar. Selain itu, proses penamaan juga muncul dari para pengikut wetu telu yang dianggap berbeda dengan penganut ajaran agama Islam pada umumnya.[9]
Penyebutan istilah wetu telu mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Komunitas waktu lima menyatakan bahwa wetu telu sebagai waktu tiga (tiga:telu) dan mengaitkan makna ini dengan reduksi seluruh ibadah Islam menjadi tiga. Orang Bayan[10] sebagai penganut terbesar Islam Wetu telu ini, menolak penafsiran semacam itu. Pemangku Adatnya mengatakan bahwa, term wetu sering dikacaukan dengan waktu. Wetu berasal dari kata “metu” yang berarti “muncul” atau “datang dari”. Sedangkan “telu” artinya “tiga”. Secara simbolis makna ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul melalui tiga macam sistem reproduksi, yaitu melahirkan (disebut menganak), bertelur (disebut menteluk) dan berkembang biak dari benih (disebut juga mentiuk). Term Wetu telu juga tidak hanya menunjuk kepada tiga macam sistem reproduksi, tetapi juga menunjuk pada kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk hidup untuk hidup dan mengembangkan diri melalui mekanisme reproduksi tersebut.[11]
Sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan Wetu telu berasal dari bahasa Jawa yaitu Metu Saking Telu yakni keluar atau bersumber dari tiga hal: Al-Qur’an, Hadis dan Ijma. Artinya, ajaran-ajaran komunitas penganut Islam Wetu telu bersumber dari ketiga sumber tersebut.[12]

B.       Sejarah Islam Wetu Telu
Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu.
Erni Budiwati mengatakan sebelum kedatangan pengaruh asing di Lombok, Boda merupakan kepercayaan asli orang Sasak atau dikenal juga dengan Sasak-Boda. Kendati demikian kepercayaan Boda ini tidaklah sama dengan Budhisme karena ia tidak mengakui Sidharta Gautama atau Sang Budha sebagai figur utama pemujaannya maupun terhadap ajaran pencerahannya. Agama Boda dari orang Sasak asli terutama ditandai oleh animisme[13] dan panteisme[14]. Pemujaan dan penyembahan terhadap roh-roh leluhur dan berbagai dewa lokal lainnya merupakan fokus utama dari praktek keagamaan Sasak-Boda.
Konversi orang Sasak ke dalam Islam sangat berkaitan erat dengan kenyataan adanya penaklukan kekuatan luar yang menaklukkan Lombok selama berabad-abad. Orang Jawa, Makasar, Bugis, Bali, Belanda, dan Jepang berhasil menguasai Lombok lebih kurang satu milenium.
Kerajaan Hindu-Majapahit dari Jawa Timur, masuk ke Lombok pada abad ke-7 dan memperkenalkan Hindu-Budhisme ke kalangan orang Sasak.[15]
Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni Sunan Prapen pada sekitar abad ke-13, setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Sunan Prapen merupakan  raja ke-4 dari dinasti Giri Kedaton. Ia merupakan anak dari Sunan Dalem penerus Giri yg ke 2. Sunan Prapen lahir tahun 1432 saka atau 1510 Masehi. Pada umur 46 tahun menjadi raja Giri ke 4 bertepatan tahun 1556 M. Dan meninggal dunia tahun 2605 M. Umur Sunan Prapen 95 tahun. Dan memimpin kerajaan Giri Kedaton selama 49 tahun. Islam segera menyatu dengan ajaran sufisme Jawa yang penuh mistikisme.[16]
Kemudian, orang-orang Makasar tiba di Lombok Timur pada abad ke-16 dan berhasil menguasai Selaparang, kerajaan orang Sasak asli. Dibandingkan dengan orang Jawa, orang Makasar lebih berhasil dalam mendakwahkan Islam Sunni. Kerajaan Bali dari Karangasem menduduki daerah Lombok Barat sekitar abad ke-17, dan kemudian menkonsolidasikan kekuasaannya terhadap seluruh Lombok setelah mengalahkan kerajaan Makasar pada tahun 1740. Akan tetapi, kalangan bangsawan Sasak dan para pemimpin lainnya seperti Tuan Guru yang telah terislamisasi, merasa tertekan dan bergabung untuk memimpin banyak pemberontakan yang berakhir kekalahan yang akhirnya meminta campur tangan Belanda untuk masuk ke Lombok untuk mengusir kerajaan Bali. Namun di luar ekspektasi bangsawan Sasak, alih-alih mengembalikan kekuasaan kepada para bangsawan setelah menaklukkan kerajaan Bali, Belanda malah menjadi penjajah baru terhadap Sasak. Di bawah Belanda, Sasak mengalami kontrol dan penindasan yang lebih keji daripada penguasa-penguasa sebelumnya. Olehkarenanya, Tuan Guru membentuk gerakan pemberontakan dan memperoleh pengikut yang meningkat dan juga meningkatkan polarisasi antara wetu telu (dipimpin bangsawan Sasak dan memuja adat lokal) dan waktu lima (mengikuti Tuan Guru sebagai pemimpin keagamaan) yang akhirnya menghasilkan kemerdekaan bagi Lombok pada tahun 1946, dan pada tahun 1950 Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid yang juga pemimpin nasionalis mendirikan pesantrennya, Nahdlatul Wathan. Namun akhirnya banyak bangsawan wetu telu yang berpindah ke waktu lima, dan wetu telu yang masih ada di Tanjung dan Bayan kian terpencil dari komunitas Sasak yang mayoritas dan dianggap ketinggalan zaman.[17]
Sebelum masuknya Islam, orang Sasak percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal pergi ke gunung Rinjani, roh itu bisa kembali pada waktu-waktu tertentu atau bila diperlukan ke rumah anak cucu atu keluarganya yang lain. Dalam suasana pemahaman seperti itulah Islam masuk pertama kali ke Lombok. Di satu sisi mereka menjalankan praktek ajaran Islam, tetapi pada sisi lain mereka begitu kuat berpegang pada ajaran yang diwariskan oleh nenek moyang. Jadi, jika ada anggapan bahwa pengikut waktu-telu ini adalah pemeluk Islam yang belum menyempurnakan praktek ajaran Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah nabi tergambar pada campur aduknya berbagai kepercayaan lama dengan ajaran Islam. Islam tak sepenuhnya bisa diterima secara baik oleh masyarakat asli, tapi setelah para muballig Islam menyesuaikan ajaran Islam dengan kebudayaan dan adat istiadat setempat, akhirnya dapat diterima oleh raja-raja dan kepala adat. Dengan kata lain, ajaran dan paham Islam dimasukkan ke dalam praktek adat istiadat sehari-hari. Karena itu, pengikut waktu-teku ini selalu mengaku agama yang dianutnya adalah “Islam Adat Gama” (Islam yang sesuai dengan adat dan agama). Melalui cara itu, Islam berkembang pesat di Lombok. [18]
Islam yang masuk ke dalam sistem ajaran agama pada waktu penyebaran Islam berlangsung di Bayan. Akibatnya adalah Islam dan adat adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Adat dilestarikan lewat lembaga yang ada di masyakarat dan ditangani oleh pemangku adat yang didalam pembagian wewenang dan otoritas adat terdapat struktur hirarkis yang mengaturnya. Perayaan ritual menjadi realisasi pembagian wewenang ini sekaligus meneguhkan identitas kolektif masyarakat Bayan.
Pada masa kemudian, setelah terjadi Islamisasi secara intensif, agama di urus oleh tuan guru atau kyai. Dalam sejarah Bayan, adat dan agama sebenarnya diurus oleh orang atau lembaga yang sama dan satu karena adat dan agama adalah satu, yang hanya karena fungsinya saja kemudian keduanya dibedakan. Adat berfungsi sebagai nilai yang menjadi rujukan masyarakat dan masyarakat yang melanggar ketentuan adat mendapat hukuman yang telah ditentukan oleh adat. Nilai ini diyakini dapat mengatasi berbagai permasalahan karena dianggap bersumber dari sesuatu yang supranatural dan sakral. Pada praktiknya adat dan agama dapat dilihat dalam berbagai peralihan (kelahiran, perkawinan, dan kematian). Semua ada adatnya dan semua memiliki nilai agamawi di dalamnya. Menurut Lalu Lukman dalam bukunya disampaikan juga dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat  waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut wetu telu di masa modern.[19]
Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian dan penyebaran Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut wetu telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para kiai atau pemangku adat saja (sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang).[20]
Pasca kesuksesan Sunan Prapen mengislamkan masyarakat suku Sasak saat itu, Sunan Prapen bergegas meninggalkan Lombok untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah Sumbawa dan Bima. Akan tetapi, sepeninggal Sunan Prapen timbul masalah baru di kalangan masyarakat suku sasak Yakni kaum wanita suku Sasak menolak memeluk agama Islam. Tak hanya itu, masyarakat Sasak juga terpecah menjadi 3 golongan yaitu golongan yanga memilih mempertahankan kepercayaan lamanya dan lari ke hutan (orang Boda), golongan yang takluk dan memeluk Islam (waktu lima) dan golongan yang hanya takluk pada kekuasaan Sunan Prapen (wetu telu). Akibat dari adanya masalah ini Sunan Prapen akhirnya kembali lagi ke Lombok untuk meluruskan dan memperbaiki penyebaran Islam di Lombok.
Dari ketiga golongan tersebut, Islam wetu telu adalah golongan yang keberadaannya masih bertahan sampai sekarang. Hal ini disebabkan oleh proses Islamisasi yang belum tuntas sebagai penyebab utama munculnya Islam wetu telu.[21] Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut (1) kedatangan Islam pada saat kuatnya kepercayaan tradisional seperti animisme, dinamisme, dan Boda, (2) dominasi ajaran Hindu Majapahit yang telah berakar kuat di masyarakat, (3) para muballigh dan ulama yang menyampaikan ajaran agama Islam terburu-buru meninggalkan tempat tugasnya untuk menyebarkan agama Islam ke tempat lain seperti Sumbawa, Dompu, dan Bima, (4) para murid yang menjadi kepanjangan tangan para mubaligh dan ulama belum memiliki kemampuan menafsirkembangkan ajaran Islam secara rasional dan (5) metode dakwah yang sangat toleran dengan komitmen tidak akan merusak adat istiadat setempat.[22]

C.      Pendiri dan Tokoh-Tokoh Wetu Telu
Menurut penjelasan pendiri Pengurus Persatuan Islam Wetu-Telu di Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat di Mataram. Pada waktu yang tidak diketahui, datang seorang utusan bernama Pangeran Gusti Ngurah dari Jawa Tengah dengan membawa dua buah al-Qur’an, yang al-Qur’an itu sampai sekarang harus dibaca dengan menggunakan lampu dari buah jeruk, dan kedua al-Qur’an itu ditinggalkan di Lombok ketika Sang Pangeran melanjutkan perjalanannya ke Sumbawa. Beberapa tahun kemudian, datang lagi seorang utusan lain bernama Gempa Agung yang datang mencari Pangeran Gusti Ngurah. Karena tidak ada, maka Gempa Agung tinggal di Lombok dan mengajarkan Islam kepada penduduk.
Namun demikian, di beberapa tempat di Lombok ada pula keterangan lain tentang siapa pendiri dan penyebar Islam wetu telu ini sesuai dengan daerah masing-masing. Misalnya yang dianggap sebagai pendiri Islam wetu telu (Lombok Barat bagian Utara) adalah Ratu Mas Pahit Sembah Ulun yang disebut Wong Mukmin. Dia adalah seorang penyebar Islam dari Jawa. Dalam penyebaran ajaran Islam ia berpedoman pada sumber Islam yang hakiki, yakni al-Qur’an dan Hadist, tetapi tidak membrantas adat yang berlaku di Lombok.[23]
Demikian pula di daerah Sembalun, Lombok Timur, tidak diperoleh keterangan secara pasti nama dari orang yang pertama kali membawa faham wetu telu ini. Hanya diperoleh cerita yang disampaikan secara turun-temurun. Dahulu kala, menurut cerita tersebut, di daerah Lombok ada seorang guru yang datang untuk mengajarkan agama Islam. Oleh masyarakat Sembalun, guru itu diberi gelar Titik Selamin. Sebelum dai menyampaikan secara utuh ajaran Islam. Ia lalu melanjutkan dakwahnya ke Pulau Sumbawa dan kemudian tidak pernah kembali lagi.
Adapun tokoh-tokoh wetu telu yang bisa disebutkan antara lain:
1.    Raden Singadriya, seorang tokoh adat yang besar di daerah Bayan, Lombok Barat bagian Utara.
2.    Datu Sukowati, ia mantan hakim pada Pengadilan Negeri Selong, Lombok Timur.
3.    Lalu Badriai alias Manik Irmansyah, ia mantan pegawai Kantor Penerangan Daerah Provinsi NTB.
4.    Mamiq Murti.
5.    Raden Suweno.
6.    Lalu Andaka.
7.    Aja, yang tinggal di desa Panarukan. Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
8.    Lalu Jadid.
Di samping itu, juga ada tokoh-tokoh wetu telu yang sudah meninggal dianataranya:
1.    Kyai Talun, meninggal tahun 1937,
2.    Guru Dolah, meninggal tahun 1939,
3.    Kyai Adet, meninggal tahun 1934,
4.    Dr. Raden Sujono, meninggal tahun 1944,
5.    Kapuk Magas,
6.    Mamiq Ocet Salim, meninggal pada tahun 1965,
7.    Lalu Bratayudha, meninggal pada tahun 1965.[24]

D.      Ritual dan Praktek Keagamaan Wetu Telu
Pada umumnya orang Bayan menghormati hari-hari besar Islam, ritus peralihan (rites of passage)[25] dan siklus tanam padi. Akibatnya sekalipun pada mulanya berasal dari Islam, ritus-ritus tersebut sangat diwarnai dengan ciri khas adat lokal. Orang Bayan menggunakan kalender qomariyah dan memperingati peristiwa-peristiwa penting berdasarkan penanggalan tersebut. Selain itu orang Bayan juga memperhitungkan waktu berdasarkan siklus 8 tahunan, suatu tata cara yang tidak dikenal dalam Islam. Dalam kehidupan beragama juga ditemukan sikap mensakralkan sesuatu, baik tempat, buku, orang, benda tertentu, dan lain sebagainya. Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus baik berupa upacara keagamaan ataupun ritual lainnya.[26]
Islam wetu telu mempunyai pandangan hidup yang serba Telu (tiga), seolah-olah angka itu merupakan angka sakral. Inilah salah satu yang membedakan antara Islam wetu telu dengan Islam ortodok. Al Syahrastani juga menganggap penting al-adat (angka). Rukun Islam yang lima oleh penganut Islam wetu telu dipotong menjadi tiga yaitu syahadat, shalat dan puasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan rukun ke empat dan lima yaitu haji dan zakat mereka tinggalkan, itupun tidak dilaksanakan dengan sempurna. Dalam hal puasa Ramadhan mereka puasa hanya tiga hari pertama, tiga hari pertengahan dan tiga hari terakhir. Selain itu juga kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian, kelahiran, penyembelihan hewan, selamatan dan sebagainya, juga harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.[27]
Di Bayan ini terdapat mesjid kuno yang biasa dipakai untuk melaksanakan ibadah shalat bagi penganut wetu telu. Untuk memasuki mesjid ini tidak bisa sembarang memakai pakaian tapi harus memakai sarung dan kemeja putih. Selain itu juga di wilayah ini masyarakat melakukan berbagai upacara adat terutama dalam rangka bertani seperti upacara adat bonga padi. Masyarakat di sini juga sangat tabu melupakan leluhur karena bisa mengakibatkan terjadi bencana. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa. Namanya “Kemaliq” yang artinya tabu, suci dan sakral. Terletak di Desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama “Upacara Pujawali dan Perang Topat” sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia.
Penyebutan Islam wetu telu ini disangkal oleh Raden Gedarip, seorang pemangku adat Karangsalah. Menurutnya, Islam hanya satu, tidak ada polarisasi antara waktu tiga (wetu telu) dan waktu lima. “Sebenarnya wetu telu bukan agama, tetapi adat”, ucapnya.  Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa masyarakat adat wetu telu ini mengakui dua kalimah syahadat, “Allah Tuhan kami yang kuasa dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah”. Dua kalimat syahadat pun diucapkan oleh penganut wetu telu ini, Setelah diucapkan dalam bahasa Arab, kata Gedarip, diteruskan dalam  bahasa Sasak, misalnya: “Asyhadu Ingsun sinuru anak sinu. Anging stoken ngaraning pangeran. Anging Allah pangeran. Ka sebenere lan ingsun anguruhi. Setukhune nabi Muhammad utusan demi Allah. Allahhuma shali Allah sayidina Muhammad”. Artinya: “Kami berjanji (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Disebut “berjanji” karena diakui sudah menerima agama Islam.[28]
Dalam kehidupan masyarakat penganut Islam wetu telu di mana dalam agamanya pun tidak lepas dari kebudayaan yang terakulturasi dalam agama yang mereka yakini sehingga terdapat pula ritual-ritual seperti halnya dalam ritual-ritual kepercayaan yang ada dalam menganut Islam waktu lima.[29] Adapun bentuk-bentuk dialektika antara Islam dan Budaya dalam wetu telu tersebut yaitu:
1.    Adat Hidup dan Mati: semenjak kelahiran hingga kematian dalam kehidupan seseorang terdapat serentetan upacara-upacara adat sebagai berikut:
a.    Buang Au, upacara dilaksanakan menjelang seorang bayi berumur 7 hari kemudian langsung diberi nama. Seperti halnya dalam waktu lima yang disebut Aqiqah.
b.    Ngurisan dan Nyunatan, upacara dilaksanakan apabila anak-anak mencapai umur tiga sampai enam tahun. Hal ini juga dilakukan dalam Islam.
c.    Potong Gigi dan Ngawinan, merupakan upacara yang menandai peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam upacara ini pemangku atau kiai menghaluskan gigi bagian depan anak laki-laki dan gadis remaja yang berbaring di berugak.
Begitu pula dalam peristiwa kematian banyak sekali macam upacara bahkan terjadi pengorbanan yang luar biasa karena dianggap sebagai penghor-matan terakhir pada almarhum. Kegiatan upacaranya meliputi: penyelenggaraan jenazah seperti memandikan, mengafankan, menyalatkan dan menguburkan. Setelah keempat upacara tersebut selesai kemudian menyusul kegiatan lainnya, berupa upacara sebagai berikut:
a.    Nelung, yaitu hari ketiga dari peristiwa kematian,
b.    Mituq, yaitu hari ke tujuh dari peristiwa kematian,
c.    Nyanga, yaitu hari kesembilan dari peristiwa kematian. Pada hari ini diserahkan sebagian harta benda almarhum kepada pihak petugas atau acara ini lazim disebut istilah nyelawat.
d.    Pelayaran, upacara ini dilaksanakan tiap-tiap minggu atau bulan tepat pada hari kematian sesorang.
e.    Matangpulu, Nyatus dan Nyiu; masing-masing diadakan pada hari yang ke empat puluh, keseratus dan keseribu. [30]

2.    Adat Agama; warna Islam juga ditemukan dalam ritual-ritual yang berkaitan dengan hari besar Islam, seperti:
a.    Rowah Wulan dan Sampet Jum’at
Kedua upacara ini dimaksudkan untuk menyambut tibanya bulan puasa (Ramadlan). Rowah Wulan diselenggarakan pada hari pertama bulan Sya’ban, sedangkan  Sampet Jum’at dilaksanakan pada jum’at terakhir bulan Sya’ban. Tujuannya adalah sebagai upacara pembersihan diri menyambut bulan puasa, saat mereka diminta untuk menahan diri dari perbuatan yang dilarang guna menjaga kesucian bulan puasa.
Upacara-upacara ini tergolong unik, karena masyarakat wetu telu sendiri tidak melakukan puasa. Yang melaksanakan hanyalah para kiai, itupun tidak sama dengan tata cara berpuasa yang dilakukan oleh penganut waktu lima.
b.    Maleman Qunut dan Maleman Likuran
Maleman Qunut merupakan peringatan yang menandai keberhasilan melewati separuh bulan puasa. Upacara ini dilaksanakan pada malam keenam belas dari bulan puasa. Bila dibandingkan dengan Waktu Lima, pada malam keenam belas dalam pelaksanaan rakaat terakhir shalat witir setelah shalat tarawih disisipkan qunut. Barangkali atas dasar ini kemudian wetu telu menyelenggarakan Maleman Qunut.
Sedangkan Maleman Likuran  merupakan upacara yang dilaksanakan pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 bulan puasa. Perayaan tersebut dinamakan maleman selikur, maleman telu likur, maleman selae, maleman pitu likur, dan maleman siwak likur. Pada malam ini masyarakat wetu telu secara bergiliran menghidangkan makanan untuk para kyai yang melaksanakan shalat tarawih di masjid kuno. Adapun pada malam ke-22, 24, 26, dan 28 dirayakan dengan makan bersama oleh para kyai. Perayaan ini disebut sedekah maleman likuran.[31]
c.    Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi
Maleman Pitrah identik dengan saat pembayaran zakat fitrah di kalangan waktu lima. Hanya saja dalam tradisi wetu telu terdapat sejumlah perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya dengan Waktu Lima. Dalam tradisi wetu telu, maleman Pitrah merupakan saat dimana masing-masing anggota masyarakat mengumpulkan pitrah kepada para kyai yang melaksanakan puasa dan hanya dibagikan di antara para kyai saja. Bentuk pitrahnya pun berbeda. Dalam ajaran waktu lima, yang juga mentradisi di kalangan Islam pada umumnya, zakat fitrah hanya berupa bahan makanan dengan jumlah tertentu dan hanya dikeluarkan untuk orang-orang yang hidup. Dalam tradisi wetu telu, Pitrahnya berupa makanan, hasil pertanian, maupun uang, termasuk uang kuno, dan berlaku baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Untuk yang masih hidup Pitrah itu disebut Pitrah Urip, sedangkan untuk yang sudah meninggal disebut Pitrah Pati.
Sedangkan Lebaran Tinggi identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Fitri bagi penganut waktu lima. Bedanya, dalam upacara Lebaran Tinggi diadakan acara makan bersama antara pemuka agama dan pemuka adat, serta masyarakat penganut wetu telu.
d.    Lebaran Topat
Lebaran Topat diadakan seminggu setelah upacara Lebaran Tinggi. Dalam perayaan ini, seluruh Kyai dipimpin Penghulu melakukan Sembahyang Qulhu Sataq atau shalat empat rakaat yang menandai pembacaan surat Al-Ikhlas masing-masing seratus kali. Lebaran Topat berakhir dengan makan bersama di antara para kyai. Dalam perayaan ini, ketupat menjadi santapan ritual utama.
e.    Lebaran Pendek
Lebaran Pendek identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Adha di kalangan waktu lima. Pelaksanaannya dilakukan dua bulan setelah lebaran topat. Dimulai dengan shalat berjamaah di antara para Kyai disusul acara makan bersama dan setelah itu dilanjutkan dengan pemotongan kambing berwarna hitam.[32]
f.      Selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang
Upacara selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan 8 Safar menurut penanggalan wetu telu. Upacara ini untuk memperingati munculnya umat manusia dan beranak pinaknya melalui ikatan perkawinan. Bubur puteq (bubur putih) dan bubur abang (bubur merah) merupakan hidangan ritual utama yang dikonsumsi dalam upacara ini. Bubur putih melambangkan air mani yang merepresentasikan laki-laki, sedangkan bubur merah melambangkan darah haid yang merepresentasikan perempuan.
g.    Maulud
Dari penyebutannya, terkesan bahwa upacara ini terkait dengan upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dilaksanakan oleh waktu lima. Kendati waktu pelaksanaannya sama, yakni pada bulan Rabi’ul Awal, wetu telu merayakannya untuk memperingati perkawinan Adam dan Hawa. Seperti upacara-upacara lainnya, berdo’a dan makan bersama ditemukan dalam upacara ini.[33]











Gambar 1.1: Persiapan acara Maulud













Gambar 1.2: Arak-Arak para pemuda membawa makanan untuk diberikan kepada tokoh adat dan agama.











Gambar 1.3: Para penganut Islam Wetu Telu berkumpul di Masjid

C. Konsepsi Kepercayaan Islam Wetu telu
Bagi komunitas wetu telu di Bayan, salah satu daerah konsentrasi penganut wetu telu,  paling tidak ada empat konsepsi mengenai wetu telu. Walau berbeda- beda, keempatnya merupakan satu kesatuan pengertian, karena masing-masing tokoh yang diwawancarai mengakui konsepsi yang dikemukakan oleh tokoh wetu telu lainnya.
Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa wetu telu berarti tiga sistem reproduksi, dengan asumsi kata Wetu  berasal dari kata Metu, yang berarti muncul atau datang dari, sedangkan Telu berarti tiga. Secara simbolis hal ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul [metu] melalui tiga macam sistem reproduksi: 1) melahirkan (menganak), seperti manusia dan mamalia; 2) bertelur (menteluk), seperti burung; dan 3) berkembang biak dari benih atau buah (mentiuk), seperti biji-bijian, sayuran, buah-buahan, pepohonan dan tetumbuhan lainnya. Tetapi fokus kepercayaan wetu telu  tidak terbatas hanya pada sistem reproduksi, melainkan juga menunjuk pada Kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk hidup untuk hidup dan mengembangbiakkan diri melalui mekanisme reproduksi tersebut.[34]
Kedua, persepsi yang mengatakan bahwa wetu telu melambangkan keter- gantungan makhluk hidup satu sama lain. Menurut konsepsi ini, wilayah kosmologis itu terbagi menjadi jagad kecil dan jagad besar. Jagad kecil disebut alam raya atau mayapada yang terdiri atas dunia, matahari, bulan, bintang dan planet lain, sedangkan manusia dan makhluk lainnya merupakan jagad kecil yang selaku makhluk sepenuhnya tergantung pada alam semesta.
Ketiga, konsepsi yang menyatakan bahwa wetu telu sebagai sebuah sistem agama termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus; dilahirkan (menganak), hidup (urip), dan mati (mate). Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini. Setiap tahap, yang selalu diiringi upacara, merepresentasikan transisi dan transformasi status seseorang menuju status selanjutnya; juga mencerminkan kewajiban seseorang terhadap dunia roh.
Keempat, konsepsi yang menyatakan bahwa pusat kepercayaan wetu telu adalah iman kepada Allah, Adam dan Hawa. Konsep ini dari pandangan bahwa unsur-unsur penting yang tertanam dalam ajaran wetu telu adalah: 1). Rahasia atau Asma yang mewujud dalam panca indera tubuh manusia. 2). Simpanan Ujud Allah yang termanifestasikan dalam Adam dan Hawa. Secara simbolis Adam merepresentasikan garis ayah atau laki-laki, sementara Hawa merepresentasikan garis ibu atau perempuan. Masing-masing menyebarkan empat organ pada tubuh manusia. 3). Kodrat Allah adalah kombinasi 5 indera (berasal dari Allah) dan 8 organ yang diwarisi dari Adam (garis laki-laki) dan Hawa (garis perempuan). Masing- masing kodrat Allah bisa ditemukan dalam setiap lubang yang ada di tubuh manusia dari mata sampai anus.[35]

D. Interaksi Kepercayaan Wetu Telu dengan Agama-Agama Lain

Agama sasak atau lebih spesifik lagi Islam sasak merupakan cermin dari pergulatan agama lokal atau tradisional berhadapan dengan agama dunia yang universal dalam hal ini Islam. Seperti yang terjadi di Bayan (Lombok), Islam wetu telu (Islam Lokal) yang banyak dipeluk oleh penduduk Sasak asli dianggap sebagai “tata cara keagamaan Islam yang salah (bahkan cenderung syirik)” oleh kalangan Islam waktu lima, sebuah varian Islam universal yang dibawa oleh orang-orang dari daerah lain di Lombok. Islam waktu lima sejak awal kehadirannya disengaja untuk melakukan misi atau dakwah Islamiyah terhadap kalangan wetu telu.[36]
Beberapa kalangan melihat fenomena wetu telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam abangan atau Islam Jawa di Jawa, sebagaimana trikotomi yang diajukan Geertz, dan ditulis oleh Mark Woodward. Namun penyebutan Islam wetu telu ini disangkal oleh Raden Gedarip, seorang pemangku adat Karangsalah. Menurutnya, Islam hanya satu, tidak ada polarisasi antara waktu tiga (wetu telu) dan waktu lima. “Sebenarnya wetu telu bukan agama, tetapi adat”, ucapnya.  Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa masyarakat adat wetu telu ini mengakui dua kalimah syahadat, “Allah Tuhan kami yang kuasa dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah”. Dua kalimat syahadat pun diucapkan oleh penganut wetu telu ini, Setelah diucapkan dalam bahasa Arab, kata Gedarip, diteruskan dalam  bahasa Sasak, misalnya: “Asyhadu Ingsun sinuru anak sinu. Anging stoken ngaraning pangeran. Anging Allah pangeran. Ka sebenere lan ingsun anguruhi. Setukhune nabi Muhammad utusan demi Allah. Allahhuma shali Allah sayidina Muhammad”. Artinya: “Kami berjanji (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Disebut “berjanji” karena diakui sudah menerima agama Islam.[37]
Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural.
Proses komporomi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mugkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan, apa yang di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan. Sementara di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam wetu telu.
Proses islamisasi yang berlangsung di Nusantara pada dasarnya berada dalam proses akulturasi. Seperti telah diketahui bahwa Islam disebarkan ke Nusantara sebagai kaedah normatif di samping aspek seni budaya. Sementara itu, masyarakat dan budaya di mana Islam itu disosialisasikan adalah sebuah alam empiris. Dalam konteks ini, sebagai makhluk berakal, manusia pada dasarnya beragama dan dengan akalnya pula mereka paling mengetahui dunianya sendiri. Pada alur logika inilah manusia, melalui perilaku budayanya senantiasa meningkatkan aktualisasi diri. Karena itu, dalam setiap akulturasi budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal paling sesuai dengan kebutuhannya.[38]
Seperti yang telah kita bahas di atas bahwa Boda adalah nama dari kepercayaan asli Suku Sasak, beberapa menyebutnya Sasak Boda. Walapun ada kesamaan pelafalan dengan Buddha, Boda tidak memiliki kesamaan dan hubungan dengan Buddhisme. Orang Sasak yang menganut kepercayaan Boda tidak mengenal dan mengakui Sidharta Gautama (Sang Buddha) sebagai figur utama. Agama Boda orang Sasak ini justru ditandai dengan penyembahan roh-roh leluhur mereka sendiri dan juga percaya terhadap berbagai.
Kerajaan Majapahit masuk ke Lombok dan membawa serta budayanya. Hindu-Buddha Majapahit pun kemudian dikenal oleh Suku Sasak. Di akhir abad ke 16 hingga abad ke 17 awal perkembangan agama Islam menyentuh pulau Lombok. Salah satunya karena peran Sunan Giri. Setelah perkembangan Islam, kepercayaan Suku Sasak sebagian berubah dari Hindu menjadi penganut Islam.
Berdasarkan sistem kepercayaan Suku Sasak pada masa-masa selanjutnya, kemudian dapat diklasifikasikan tiga kelompok utama; Boda, Wetu Telu, dan Islam (Wetu Lima).
Ini menunjukkan adanya hubungan masa lalu antara penganut Islam wetu telu  dengan agama Buddha dan Hindu dalam penyebarannya ke tanah Lombok khususnya Suku Bayan.[39]












BAB III

PENUTUP


A.  Kesimpulan

Wetu telu, adalah model “Islam Sinkretik” di Lombok . Belum sempurnanya ajaran yang disebarkan kerajaan Demak melalui Sunan Prapen dalam pelaksanaan syariat, sedangkan penduduk asli masih memegang teguh ajaran yang dianut sebelumnya sehingga melahirkan Islam sengkritisme yang mencampur adukkan antara kepercayaan lama dan Islam dalam waktu yang cukup lama.
Kerajaan Hindu Bali yang bercokol di Lombok cukup lama telah banyak memberikan ruang para penganut Wetu telu untuk bertahan dan berintraksi dengan penganut Hindu, di samping politik pecah belah Belanda telah membuka ruang saling berhadapannya Wetu telu dan waktu Lima sehingga Wetu telu semakin menemukan jati diri dan merasa berbeda dengan penganut islam pada umumnya.
Ritual-ritual Wetu telu terlihat pada acara; buang au, ngurisan, ngitanan, merosok, merarik, lebaran topat, selametan dan maulidan yang berbeda pada peringatan maulid pada umumnya. Ritual ini masih terpelihara di beberapa daerah dengan konstruksi konten yang lebih bernuansa keislaman murni. Ada beberapa konsep mengenai kepercayaan Islam wetu tellu, diantaranya adalah konsepsi yang menyatakan bahwa Wetu telu sebagai sebuah sistem agama termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus; dilahirkan [menganak] hidup [urip] dan mati [mate]. Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini.
Dalam hal interaksi dengan kebudayaan asing, masyarakat setempat sudah banyak mengambil hal-hal baru yang sekiranya cocok dengan adat setempat sehingga nantinya akan banyak ditemukan percampuran budaya diantara kedua kubu dan mengakibatkan sinkretisme kebudayaan yang sampai sekarang masih terasa dengan tanpa menghilangkan adat istiadat asli suku sasak.



B.  Penutup
Demikianlah sedikit simpulan dari kami pemakalah, jika pembaca menemukan banyak kesalahan konten maupun penulisan kami mohon maaf daripadanya, karena yang baik datangnya dari Allah. Kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kemajuan makalah kami kearah yang lebih baik. Semoga makalah singkat ini dalam menambah khazanah kelimuan kita semua dalam memperluas ilmu pengetahuan khususnya dalam kajian ilmu Perbandingan Agama.























DAFTAR PUSTAKA


Agus, Bustanudin. 2007. Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
Asnawi. Respon Kultural Masyarakat Sasak Terhadap Islam, Ulumuna, Volume IX Edisi 15 Nomor 1 Januari-Juni 2005.
Athar, Zaki Yamani. Kearifan Lokal Dalam Ajaran Islam Wetu Telu di Lombok, Ulumuna, Volume IX Edisi 15 Nomor 1 Januari-Juni 2005.
Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak: Wetu telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKiS.
Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan. 2014. Dinamika Agama Lokal Di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI.
Lukman, Lalu. 2007.  Pulau Lombok dalam Sejarah, cet. 4,
Parimartha,  I Gede.  Politik dan perdagangan di Lombok Abad XIX ,  majalah: Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi, dan Persepsi, Penerbit Gramedia Jakarta, vol 3.
Rasmianto. 2009. Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, Malang: UIN Malang.
Sastrodiharjo, Soekardjo. 1961. Beberapa Djatatan Lombok. Djakarta: Pusat Djawatan Pertanian Rakjat.
Sejarah dan Tradisi Suku Sasak Lombok, NTB, http://www.wacananusantara.org/ sejarah -dan-tradisi -suku-sasak/ diakses pada tanggal 28 April 2016.
Surjo dkk, Djoko.  2001. Agama dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: LKPSM.
Tim Peneliti Badang Litbang. 1999. Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia. Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI.
Zakaria, Fathurrahman. 1998. Mozaik Budaya Orang Mataram. Mataram: Yayasan Sumurmas Al-Hamidy.
Zuhdi, Muhammad Harfin. Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu-telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
Zuhdi, Muhammad Harfin. Parokialitas Adat Wetu telu di Bayan, Istinbath, Vol. 13, No. 1, Desember 2014.





[1] Tim Peneliti Badang Litbang, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h, 60-61.
[2] Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 4-6.
[3] Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Dinamika Agama Lokal Di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 158-160.
[4] Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 6-8.

[5] Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Dinamika Agama Lokal Di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 192.
[6] Tim Peneliti Badan Litbang Agama, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h. 57.
[7] Tim Peneliti Badan Litbang Agama, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h. 58-59.
[8] Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Dinamika Agama Lokal Di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 163.
[9] Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Dinamika Agama Lokal Di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 163,
[10] Penganut Islam Wetu telu tidak hanya di Bayan (Lombok Barat), tetapi juga di daerah lombok Tengah (Sengkol). Lihat Asnawi, Respon Kultural Masyarakat Sasak Terhadap Islam, Ulumuna, Volume IX Edisi 15 Nomor 1 Januari-Juni 2005, h. 11. Lihat Juga Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram, Mataram: Yayasan Sumurmas Al-Hamidy, 1998, h. 158.
[11] Erni Budiarti, Islam..., h. 136. Juga John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim; Kearifan Masyarakat Sasak, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001, h.98
[12] Zaki Yamani Athar, Kearifan Lokal Dalam Ajaran Islam Wetu telu di Lombok, Ulumuna, Volume IX Edisi 15 Nomor 1 Januari-Juni 2005, h. 76.
[13] Animisme adalah kepercayaan kepada roh-roh yang dianggap mendiami benda, pohon, batu, sungai, gunung dan sebagainya.
[14] Panteisme 1) ajaran yang menyamakan Tuhan dengan kekuatan-kekuatan dan hukum- hukum alam semesta; 2) penyembahan /pemujaan kepada semua Dewa dari berbagai kepercayaan.
[15] Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 8.
[16] Lalu Lukman, Pulau Lombok dalam Sejarah, cet. 4, 2007, h, 95.
[17] Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 8-11.
[18] Tim Peneliti Badang Litbang, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h. 60-61.
[19] Kementrian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Dinamika Agama Lokal Di Indonesia, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 189-190.
[20] Rasmianto, Interelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009), h. 138.
[21] R. Soekarjo Sastrodiharjo, Beberapa Tjatatan Tentang Daerah Lombok, (Djakarta: Pusat Djawatan Pertanian Rakjat, 1961), h. 22.
[22] Zaki Yamani Athar, Kearifan Lokal Dalam Ajaran Islam Wetu Telu di Lombok, Ulumuna, Volume IX Edisi 15 Nomor 1 Januari-Juni 2005, h. 76.
[23] Tim Peneliti Badang Litbang, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h. 66-67.
[24] Tim Peneliti Badang Litbang, Tradisi dan Kepercayaan Lokal pada Beberapa Suku di Indonesia, (Jakarta: Badan Litbang Agama Departemen Agama RI, 1999), h. 69-71.
[25] Contoh kegiatan ritus peralihan adalah kelahiran, pernikahan, pindah rumah ataupun kematian.
[26] Bustanudin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007, h. 80.
[27] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[28] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Telu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[29] Rasmianto, Interelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu telu di Lombok, h. 146.
[30] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[31] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[32] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[33] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[34] Muhammad Harfin Zuhdi, Parokialitas Adat Wetu telu di Bayan, Istinbath, Vol. 13, No. 1, Desember 2014. h. 33.
[35] Erni Budiwanti, Islam Sasak Wetu Telu versus Waktu Lima, (Yogyakarta: LkiS, 2000), h. 184-191.
[36] Najib Burhani, Pergumulan Islam dan Budaya Sasak, Diakses dari http://nusantaraislam.blogspot.com/2011/06/pergumulan-islam-dan-budaya-sasak.html pada 14 Maret 2016.
[37] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[38] Muhammad Harfin Zuhdi, Islam Wetu Tellu di Bayan Lombok; Dialektika Islam dan Budaya Lokal. Diakses dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2012/05/islam-wetu telu-di-bayan-lombok.html. pada 14 Maret 2016.
[39] Sejarah dan Tradisi Suku Sasak Lombok, NTB, http://www.wacananusantara.org/ sejarah -dan-tradisi -suku-sasak/ diakses pada tanggal 28 April 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar