Kamis, 09 Juni 2016

Local Wisdom Endik Sudikna




TRADISI PERNIKAHAN DI DESA CISAGA CIAMIS JAWA BARAT
Oleh: Endik Sudikna (NIM: 11140321000029)

A.  Latar Belakang
Pernikahan adalah sebuah momen bersatunya sepasang kekasih  dalam ikatan suami istri yang disahkan dihadapan banyak orang dan di hadapan Tuhan tentunya diakui oleh negara. Tidak dipungkiri, pernikahan adalah momen penting dalam kehidupan setiap manusia. Pada dasarnya defenisi pernikahan itu hakikatnya sama dan tidak ada perbedaan di setiap kebudayaan,karna dapat di artikan tujuan dari pernikan itu, menjalin hidup yang baru untuk mencapai suatu kebahagiaan,dan akan hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup.

B.  Pernikahan Adat Sunda
Pernikahan memang salah satu upacara sakral yang diharapkan sekali seumur hidup. Bentuk pernikahan banyak sekali macamnya dari yang paling sederhana sampai yang paling lengkap karena memakai upacara adat suatu daerah tertentu. Orang Indonesia jika menikah niscaya tidak pernah meninggalkan adatnya. Kalau tidak mengikuti adat dari pengantin pria biasanya mengikuti adat pengantin wanita. Inti dari pernikahan sejatinya sama yaitu ingin mendapat restu dari orangtua dan masyarakat luas.
Banyaknya adat dan budaya di Indonesia, tentunya menjadikan banyak pula macam prosesi pernikahan adat yang berbeda-beda. Seperti prosesi pernikahan adat sunda ini, kekayaan budaya tatar sunda dapat kita lihat lewat prosesi pernikahan adatnya yang diwarnai dengan humor namun tidak menghilangkan nuansa sakral dan khidmat.
Dalam pernikahan adat sunda hampir sama dengan adat pernikahan jawa dan daerah lainnya. Ada beberapa acara yang harus dilakukan untuk melangsungkan pernikahan. Diawali dengan meminta izin kepada kedua orangtua melalui pengajian. Dilanjutkan dengan siraman sampai prosesi pernikahan. Bagi banyak orang sunda, tahap-tahap prosesi pernikahan adat wajib untuk dilakukan.
C.  Pernikahan Adat Sunda di Daerah Cisaga Ciamis
05 Mei 2016, di Cisaga, tepatnya di Cisaga kota persis di seberang Mesjid Agung Cisaga, berlangsung sebuah pesta pernikahan antara dua mempelai yang semuaya berasal dari Desa Cisaga. Setting menggunakan setting Budaya Sunda. Upacara adat, termasuk pakaian pengantin adat sunda dikenakan kedua mempelai beserta para kerabat dan panitia. Akad nikah dilakukan langsung di Mesjid Agung Cisaga yang terhalang Jalan Raya Ciamis - Banjar dari tempat belangsungnya pesta pernikahan. Gelaran Electone disajikan untuk menambah semarak pesta pernikahan tersebut. Menjelang sore, Jalan Raya Ciamis - Banjar masih cukup padat dilalui berbagai kendaraan, termasuk sebuah rombongan tour wisata yang melintas dari arah Ciamis menuju Banjar. Kendaraan yang digunakan jenis bis yang berhenti di Pertigaan Cisaga (Jalan pertigaan Ciamis - Banjar dan Rancah). Rombongan turun dari bis dan berlajan menyusuri jalan Ciamis - Banjar, melewati Kantor Desa Cisaga yang berseberangan dengan desa Alun-alun Kecamatan Cisaga, dan kembali ke depan Mesjid Agung Cisaga tepatnya ke tempat resepsi pernikahan berlangsung.

D.  Prosesi Pernikahan Adat Sunda Sebelum Hari H
1. Neundeun Omong (Menyimpan Ucapan)
Pada prosesi pertama adalah pembicaraan antara kedua pihak orang tua mempelai atau walinya yang dipercaya jadi menjadi utusan pihak pria yang mempunyai rencana untuk mempersunting seorang wanita sunda.
Orang tua atau wali datang bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak sang wanita akan dilamar. Sebelumnya orang tua masing-masing memang telah membuat kesepakatan untuk menjodohkan atau sang pria dan wanitanya sudah sepakat untuk mengikat janji dalam suatu ikatan pernikahan. Selanjutnya orang tua pria datang sendiri atau menyuruh orang lain ke rumah sang wanita untuk menyampaikan niatnya.
Intinya, neundeun omong (titip ucap, menaruh perkataan atau menyimpan janji) yang mengharapkan sang wanita agar menjadi menantunya. Dalam hal ini, orang tua atau wali membutuhkan kepandaian berbicara, berbahasa dan penuh keramahan.
2. Narosan atau Nyeureuhan (Lamaran)
Prosesi melamar atau meminang ini adalah sebagai tindak lanjut dari tahap pertama. Prosesi ini dilakukan orang tua calon pengantin keluarga sunda dan keluarga dekat. Hampir mirip pada tahap pertama, bedanya dalam lamaran, orang tua pria biasanya mendatangi calon besannyadengan membawa makanan atau bingkisan kepada mempelai wanita dengan seadanya, membawa lamareun untuk pameungkeut yaitu tali pengikat kepada calon pengantin wanitanya. Biasanya berupa uang, seperangkat pakaian, semacam cincin pertunangan, sirih pinang komplit dan lainnya. Selanjutnya, kedua pihak mulai membicarakan waktu dan hari yang disepakati untuk melangsungkan pernikahan.
3. Tunangan
 Prosesi pernikahan adat sunda yang ketiga adalah prosesi patuker beubeur tameuh, secara tradisional yaitu dilakukan penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada sang wanita. Sedangkan secara modern pertukaran cincin mempelai pria dan wanita biar keduanya saling terikat.
4. Seserahan (Nyandakeun)
Pada 3 – 7 hari sebelum pernikahan, calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan dan lain-lain.
5. Ngeuyeuk Seureuh
Ini adalah prosesi yang tidak wajib atau pilihan. Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilakukan sesaat sebelum akad nikah. Tahap ini dilakukan sebagai berikut:
a. Dipimpin Pengeuyeuk.
b. Pengeuyek menyuruh kedua calon pengantin untuk meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawantenpangradinan dan sebagainya.
c. Diiringi lagu kidung oleh Pangeuyeuk.
d. Disawer beras, agar hidup sejahtera.
e. Dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan rajin bekerja.
f. Membuka kain putih penutup Pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
g. Membelah mayang jambe dan buah pinang oleh calon pengantin pria. Mempunyai makna agar keduanya saling mengasihi dan bisa menyesuaikan diri.
h. Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali oleh calon pengantin pria.
6. Membuat Lungkun
Saling hadapkan dua lembar sirih bertangkai. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya agar kelak rezeki yang didapat jika berlebihan bisa dibagikan kepada saudara dan handai taulan.
7. Berebut Uang
Prosesi ini dilaksanakan di bawah tikar sambil disawer setelah resepsi pernikahan. Bermakna berlomba-lomba dalam mencari rejeki dan disayang keluarga.

E. Prosesi Upacara Pernikahan
a. Penjemputan Calon Pengantin Pria
Sebelum resepsi dimulai dilakukan penyambutan dari mempelai wanita untuk menyambut mempelai pria. Dilakukan oleh utusan dari pihak wanita.
b. Ngabageakeun
Ibu calon pengantin wanita menyambut dengan mengalungkan bunga melati kepada calon pengantin pria. Kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
c. Akad Nikah
Petugas KUA, para saksi dan pengantin pria telah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar. Kemudian didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang bermakna penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka ketika kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
d. Sungkeman
sungkeman dalam berbagai daerah dilakukukan dengan cara berbeda – beda seperti masyarakat jawa, sungkuman dilakukan dengan cara mempelai pria berjalan jongkok menuju kepada orang tua kedua mempelai untuk meminta ampun dan meminta restu. Begitu juga di jawa barat khususnya didaerah cisaga ciamis sungkeman dilakukan dengan cara berlutut dihadapan kepada kedua orang tua untuk meminta restu dan meminta ampun.
e. Wejangan
Setelah akad nikah diberikan nasehat kepada kedua mempelai agar rumah keduanya diberikan kebaikan dam dilaksanakan oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
f. Saweran
Kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun mengandung petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi dengan payung yang besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
g. Meuleum Harupat
Pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lalu harupat dipatahkan oleh pengantin pria.
h. Nincak endog (Menginjak Telur)
Prosesi ini akan dilakukan setelah kedua mempelai melakukan akad nikah. Nincak endog ini melambangkan kemampuan mempelai laki laki untuk memberikan keturunan bagi generasi keluarga. Pengantin pria lah yang menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap oleh pengantin wanita.
i. Muka Panto (Buka Pintu)
Diawali mengetuk pintu tiga kali. Lalu diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.
Prosesi pernikahan adat sunda saat ini mulai disederhanakan, melihat prosesinya yang begitu panjang dan melelahkan. Bahkan menurut sebagian ulama, Prosesi pernikahan ini terlalu mubazir sebab ada prosesi menginjak telur yang diibaratkan sangat tidak menghargai kreasi Yang Maha Kuasa. Namun adat tetap saja adat, bagaimanapun bangsa ini tetap harus melestarikan adatnya  yang ada.

E.  Kesimpulan
Pernikahan adat Sunda di Jawa Barat sangat banyak tradisi dan keunikannya. Pernikah di daerah cisaga ciamis ini juga memiliki tradisi pernikah yang unik seprti. Adat yang biasanya dilakukan meliputi : acara pengajian, siraman (sehari sebelumnya, acara "seren sumeren" calon pengantin. Kemudian acara sungkeman, "nincak endog (nginjak telor), "meuleum harupat"( membakar lidi tujuh buah), "meupeuskeun kendi" (memecahkan kendi, sawer dan "ngaleupaskeun "kanjut kunang (melepaskan pundi-pundi yang berisi uang logam).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar