Kamis, 09 Juni 2016

Local Wisdom Muhammad Firman H.



CINGKRIK GONING: SILAT ASAL BETAWI
Oleh: Muhammad Firman Hidayat

A.  Sejarah  dan Tokoh Cingkrik Goning
Pencak silat Cingkrik Betawi adalah seni beladiri Indonesia asli, yang telah berumur bertahun-tahun dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tiap-tiap daerah di Indonesia ada tokoh-tokoh pencak silat yang ternama. Tokoh pencak silat Cingkrik Betawi ini, berasal dari seorang pendekar dan pahlawan Betawi yaitu : Ki Pitung. Cingkrik inilah yang dipercaya menjadi "maenan" tokoh legendaris si Pitung. Banyak orang mengenal jagoan asal Betawi itu, tapi tak banyak yang pernah mendengar kata Cingkrik. Cingkrik adalah salah satu aliran silat Betawi. Lantaran beberapa gerakannya adalah berlompatan dengan satu kaki, orang Betawi menyebutnya Jejingkrikan-silat ini pun disebut Jingkrik, Cingkrig atau        Cingkrik.
Ki Pitung beliau belajar pencak silat dari seorang haji yang berasal dari daerah Menes di Banten Jawa Barat. Beliau menyebar-luaskan pencak silat cingkrik Betawi ini ke daerah Marunda dan ke daerah Rawa Belong Kebon Jeruk serta daerah Jakarta dan sekitarnya.
Ki Goning, nama aslinya adalah Ainin Bin Urim. Beliau adalah seorang pejuang serta pewaris dan penerus silat Cingkrik Betawi. Beliau lahir sekitar tahun 1895 dan meninggal sekitar tahun 1975 pada umur 80 tahun. Beliau sering dipanggil “Nin” (berubah bunyi menjadi “Ning”) dan ditambah di depan kata Ning oleh orang-orang dengan bahasa Betawi yaitu dengan kata ejekan “Go” maka menjadi “Goning”.
Menurut penjelasan dari Haji Husien (anak kedua dari Kong Goning), bahwa beliau sering pergi ke daerah Marunda (Cilincing Tanjung Priok) tempat dimana Ki Pitung jaya pada zamannya. Beliau pulang ke Kedoya dari Marunda 2, 3 sampai 4 hari lamanya (tidak dijelaskan apa tujuannya).
Beliau mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Nama anak laki-laki beliau adalah :
1.    Kosim (Almarhum)
2.    Haji Husien
3.    Haji Sa’adih
4.    Haji Arsyad Jago/Mandor (Almarhum)
Dan beliau juga mempunyai seorang murid yang bernama Bapak Usup Utay.

Di daerah Kedoya, pencak silat Cingkrik Betawi ada 2 macam aliran, yaitu:
1.    Aliran silat Cingkrik Betawi Sinan dengan ciri gerakan jurus pendek-pendek.
2.    Aliran silat Cingkri Betawi Goning dengan ciri gerakan jurus panjang dan lebar.
Bapak Usup Utay, beliau adalah murid dari Kong Goning.
Beliau lahir sekitar tahun 1927 serta meninggal sekitar tahun 1993 pada umur 66 tahun.
Beliau mempunyai murid yang bernama TB. Bambang Sudrajat dari daerah Grogol.
Bapak TB. Bambang Sudrajat adalah murid dari Bapak Usup Utay dan beliau merupakan pewaris dan penerus dari aliran pencak silat Cingkrik Goning Betawi.
Cingkrik merupakan maenannya Bang Pitung. Jagoan dari daerah marunda. Konon orang tuanya orang bugis yang menetap di Batavia. Ada yang bilang dia Robin Hoodnya betawi, ada juga yang bilang pitung itu perampok. Mana yang benar tak tahu pasti. Yang pasti pitung mati di tembak belanda Catatannya bisa dilihat di perpustakaan Leiden, Belanda.
Pak Bambang sendiri belajar sejak tahun 1966. Kala itu ia berumur 11tahun. Waktu itu Ia melihat tukang bambo dari daerah rempoa belajar silat dengan Kong Usup Utay. Karena setiap hari Pak Bambang datang ke tempat latihan maka oleh Kong Usup Utay ia di tanya apakah ia mau belajar silat. Pak Bambang menjawab mau. Kemudian oleh Kong Usup Utay Pak Bambang disuruh untuk meminta izin dari orang tuanya. Setelah itu mulailah Pak Bambang belajar silat dengan Kong Usup Utay. Sampai akhirnya Pak Bambang menikah dengan putri Kong Usup Utay .Pak Bambang sendiri telah Kong Usup Utay meninggal dunia. Tapi sebelum meninggal beliau berpesan kepada Pak Bambang jangan sampai mati obor(punah-red).
Untuk mempelajari cingkrik goning harus dengan jumlah yang genap, karena latihan dilakukan dengan berpasangan. Latihan cingkrik goning yang diajarkan Bapak Bambang dibuka dengan membaca surat Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan senam pemanasan, latihan gerak jurus, latihan tanduk/teknik 80 bantingan kemudian diakhiri dengan latihan jual beli (latihan sparring). Kepada muridnya yang beragama Islam Pak Bambang berpesan agar jangan sampai meninggalkan sholat 5 waktu agar mendapat berkah dari Allah.

B.  Ciri Khas dan Filosofi
Banyaknya teknik bantingan/kuncian inilah yang merupakan daya tarik tersendiri dari cingkrik goning. Bahkan teknik kunciannya dapat bersaing dengan teknik aikido, jijutsu atau judo. Ciri lainnya, semua tekniknya dilakukan dengan satu hitungan. Jadi kecepatan dan ketepatan merupakan unsur yang penting dari silat ini. Selain itu silat ini lebih bersifat defensif atau menunggu serangan lawan. Begitu lawan mengeluarkan serangan seketika kita maju kedepan untuk menangkis dan melumpuhkan serangan lawan, hal ini disebut "Tubruk".

C.  Motto dan Arti Lambang Perguruan Cingkrik
Motto dari Cingkrik Goning adalah pengendalian diri. Motto tersebut tertuang dalam lambang perguruan itu sendiri. Lambang perguruan Cingkrik adalah sebuah satu tangan yang jari telunjuk dan jari jempolnya membentuk huruf  J atau L dengan jari tengah, jari manis dan jari kelingking agak ditekuk. Arti dari jempol di situ menunjukkan tentang kekuatan, karena kekuatan dari tangan berpusat di jempol dan arti telunjuk yang mengarah ke atas bermaksud untuk mengesakan yang ada di atas yakni Tuhan rti dari jempol di situ menunjukkan tentang kekuatan, karena kekuatan dari tangan berpusat di jempol dan arti telunjuk yang mengarah ke atas bermaksud untuk mengesakan yang ada di atas yakni Tuhan Yang maha Esa. Sedangkan yang dimaksud dengan 3 jari lainnya adalah pengendalian pikiran, emosi dan tindakan.



D.  Teknis Pelaksanaan
1.    Dalam Tekinik Bela Diri ini tidak dibatasi umur bagi para murid yang ingin mengikuti Teknik Bela Diri ini. Dari anak kecil sampai orang yang sudah dewasa pun bisa mengikutinya, tetapi pembelajarannya berbeda dan disesuaikan.
2.    Pada awalnya perguruan ini tidak mengenal sistem tingkatan sabuk sama seperi yang diterapkan di peguruan bela diri yang lain. Tetapi karena berkembanya zaman dan diterapkannya kurikulum akhirnya perguruan ini menggunakan system tingkatan sabuk. Namun itu hanya sebagai symbol saja.
3.    Dalam Teknik Bela Diri ini memiliki 12 jurus. Ketika para murid sudah menguasai 12 jurus tersebut maka mereka akan berlanjut ketingkat selanjutnya melalui proses yang dinamai dengan “Tutup Jurus”. Pada proses tutup jurus ini mereka akan dilihat dan dinilai oleh sang guru apakah mereka sudah layak atau belum untuk beralih ke tingkat yang selanjutnya. Ketika murid itu dinyatakan bisa lanjut ke tingkat selanjutnya maka murid tersebut sudah berhak memalai sabuk kuning dan mulai belajar mengenai makna-makna gerakan yang ada dalam 12 jurus yang sudah mereka hfal.
4.    Setelah mereka mempelajari makna-makna tersebut lalu mereka harus mengaplikasikannya di dalam latihan.
5.    Di Cingkrik Goning sendiri merupakan Teknik Ilmu Bela Diri yang menggunakan teknik bantingam dan kecepatan. Di perguruan Cingkrik ini diajarkan untuk tetap maju dan pantang mundur.

E.   Prinsip Belajar
Di dalam belajar Cingkrik tidak mengenal istilah yang paling hebat. Cingkrik memakai prinsip bahwa yang ada orang-orang yang ada di Cingkrik semuanya belajar, jadi yang belum bisa akan menjadi bisa lalu yang sudah bisa akan menjadi tambah bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar