Rabu, 08 Juni 2016

Agama Lokal Masyarakat NIas

MASYARAKAT NIAS
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok pada Mata Kuliah Agama-Agama Lokal
Dosen; Siti Nadroh, MA
Oleh
Ariani Barroroh Baried (11140321000027)
Salwa Anwar (11140321000021)
Chairul Anam (11140321000042)


PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016


PEMBAHASAN

Suku bangsa ini mendiami pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra. Bersama beberapa pulau kecil disekitarnya, daerah ini sekarang termasuk ke dalam wilayah kabupaten nias provinsi Sumatra utara. Penduduk asli pulau itu menamakan diri mereka ono niha artinya “anak manusia”, dan menyebut pulau mereka tano niha, artinya “tanah manusia”. Jika jumlah penduduk kabupaten nias tahun 1975 adalah 416.046 jiwa, maka sekitar 410 ribu diantaranya adalah orang nias. Pada tahun 1983, populasi suku bangsa ini diperkirakan berjumlah sekitar 480 ribu jiwa. Sedangkan yang lain para pendatang, seperti orang batak, aceh, Minangkabau, dan cina.[1]
Bahasa nias termasuk dalam rumpun Bahasa Austronesia. Bahasa ini tersebar sampai kekepulauan batu di sebelah selatan pulau nias. Diantaranya terdapat 4 dialek, yaitu dialek nias utara, nias tengah (gomo), nias selatan (teluk dalam), dan dialek batu.
Kelompok keluarga terkecil atau keluarga inti dalam baha nias disebut sangambato. Beberapa keluarga inti membentuk keluarga luas terbatas yang disebut sangambato zebua. Prinsip hubungan keturunannya bersifat patrilineal dan biasanya setiap keluarga luas tinggal bersama-sama dalam sebuah omo atau rumah. Akan tetapi masing-masing keluarga inti memiliki dapur sendiri. Beberapa sangambato zebua yang berasal dari satu kakek moyang yang sama tergabung ke dalam sebuah mado (di nias utara dan nias tengah) atau gana (di nias selatan), yaitu semacam klan atau marga patrilineal. Seorang anak yang akan nama mado ayahnya dibelakang nama kecilnya. Orang-orang dari satu mado bsa saling kawin, asal ikatan kekerabatan mereka telah sampai tingkat 10.
Orang nias hidup berkelompok dalam kampong-kampung yang mereka dirikan di atas bukit dan di pagari dengan batu atau aur berduri. Kampong itu mereka sebut banua, dipimpin oleh seorang siulu atau bangsawan yang mereka sebut tohenori atau salawa (raja).
Pada zaman dahulu, orang nias mengenal beberapa pelapisan sosial yang cukup tajam. Di nias selatan, misalnya, dikelas-kelas sosial, seperti siulu (bangsawan), ere (pendeta agama asli), ono banua (anak negri atau orang kebanyakan), dan golongan sawuyu (budak). Golongan siulu yang memerintah, misalnya diangkat menjadi kepala desa disebut balo siulu. Sedangkan anak negri dapat pula dibagi menjadi golongan siila (cerdik, pandai) dan sato (orang kebanyakan). Golongan sauyu dibagi pula menjadi tiga, yaitu binu (budak karena kalah perang, biasanya dikorbankan untuk upacara), dan holito (menjadi budak setelah ditebus dari hukuman mati). Pengaruh pengelompokan sosial diatas masih terasa sampai sekaran, karena ggolongan siulu misalnya tidak boleh kawin dengan sato. Sementara itu golongan sawuyu sekarang sudah tidak ada lagi.
Mata pencaharian utama orang nias adalah berladang dengan tanaman ubi jalar, ubi kayu, kentang, dan sedikit padi. Mata pencaharian tambahannya adalah berburu dan meramu. Pada masa kin di pulau ini ditanam orang pula cengkeh dan semak nilam untuk diambil minyaknya. Selain itu banyak pula diantara mereka yang berkebun kelapa dengan lahan yang luas-luas.
Pada zaman dahulu, nias pernah mencapai tingkat budaya megalitik yang mengagumkan. Hasil karya budaya batu itu sampai sekarang masih ditemui sisa-sisanya, seperti meja dan kursi batu, tugu-tugu dan arca arwah serta omo hada (rumah adat) yang didirikan diatas batu-batu besar pipih dan dengan tiang-tiang kayu besar, penuh pula dengan ukiran-ukiran kuno.
Pada masa sekarang sebagian besar orang nias sudah memeluk agam Kristen dan sedikit islam. Agama sli mereka disebut malohe adu (penyembah roh) yang didalamnya dikenal banyak dewa, diantaranya yang paling tinggi adalah lowalangi. Mereka mamuja orh dengan mendirikan patung-patung dari batu dan kayu, rumah tempat pemujaan roh disebut osali. Pemimpin agama asli disebut ere. Pada masa sekarang nama lowalangi di ambil untuk menyebut tuhan Allah dan osali menjadi nama gereja dalam konsep Kristen.[2]

A.  Leluhur Masyarakat Nias
1.    Versi Misionaris Heinrich Sundermann
Chaos (kekacauan awal) – 30 angin bergabung dan mewujudkan dua pohon. Pohon ke-1: si dumi-dumi, padanya tumbuh kuntum yang melahirkan: lature dan bekhu saito. Dari lature lahir bahari, dari bahari lahir afokha, dari afokha lahir bekhu saio. Dari bekhu saito lahir lafabua, dari lafabua lahir tuha ndraga, dari tuha ndraga lahir wa’o, dari wa’o lahir nadaogia.
Pohon ke-2: Solambaio nga’eu, padanya tumbuh tiga kuntum. Kuntum pertama melahirkan Tuha Luluo (Bara si Luluo) dan Lowalangi. Keduanya melahirkan Baliu. Kuntum kedua berkembang dengan bantuan Lowalangi sehingga melahirkan seorang manusia yang tidak dapat bergerak dan berbicara (Si Lo Maliwa-liwa, Si Lo Hede), kemudian Lowalangi menjadikannya mati.
Kuntum ketiga melahirkan pohon Tora’a yang melahirkan manusia. Darinya lahir Tuha Nilolo Langi. Dia mendapatkan kehidupan dari Lowalangi dan mendapatkan noso dari Baliu. Dari Tuha Nilolo Langi lahir Bara Haomo, dari Bara Haomo lahir Gumbia, dari Gumbia lahir Haomo Gi’a, dari Haomo Gi’a lahir Tuha Boro Zesolo, dari Tuha Boro Zesolo lahir Barata Hia dan Lou We. Dari Barata Hia lahir Tuha Garotua Jawa, dari Tuha Garotua Jawa lahir Ere Fugiu Hola Hola, dari Ere Fugiu Hola Hola lahir Sibegai, dari Sibegai lahir Ndruru Tano, dari Ndruru Tano lahir Falaroi dan Hulu.  
Dari Lou We lahir Tuha Golu Banua, dari Tuha Golu Banua lahir Tarewe Nauma, dari Tarewe Nauma lahir Hulu Mogia, dari Hulu Mogia lahir Mange Mohi, dari Mange Mohi lahir Sahuwa Gana’a, dari Sahuwa Gana’a lahir Sirao.
Dari Sirao inilah lahir Ba’uwodano, Lakindro, Lou Mawona, Gozo, Langi Sara Ana’a, Hiawalangi, Lahari Sofuso Kara, Hulu Hada, dan Daeli.
Demikian kiranya asal-usul masyarakat Nias menurut Heinrich Sundermann yang berdasarkan mite lokal.[3]
2.    Versi Misionaris JW Thomas
Alito dan Tuha Sihai (Tuha Nihai Hai Nangi) melahirkan satu roh yang bernama Tuha Aloloa Nangi (arti harfiahnya adalah sisa dari angin), dia meninggal kemudian dari jantungnya tumbuh satu pohon yang bernama pohon Tora’a. Pada pohon Tora’a tumbuh 9 kuntum bunga, yaitu 3 kuntum di pucuk, 3 kuntum di tengah, dan 3 kuntum di akar. Tiga kuntum di pucuk melahirkan Lowalangi (Allah), Lature (bukan roh jahat), dan Nadaoya Afokha (roh-roh jahat). Tiga kuntum di tengah melahirkan Barasi Luluo (bukan roh jahat), Baliu (bukan roh jahat), dan Feto Alito (melahirkan roh jahat). Tiga kuntum di akar awalnya tidak melahirkan sesuatu. Karena hal itu, terjadi pertentangan antara Lature dengan Barasi Luluwo/Baliu tentang hak kepemilikan. Kemudian keduanya bersepakat bahwa pemilik yang berhak adalah yang dapat menjadikan mereka manusia. Lature tidak berhasil. Kemudian Lowalangi mengajak Barasi Luluwo/Baliu untuk mencobanya. Tetapi dia hanya dapat membentuk tubuh dan jenis kelamin. Lowalangi memerintahkan Barasi Luluwo/Baliu memgambil sejumlah angin (Samba Fondrugiu: suatu kuantitas emas yang seharga 42 ringgit) untuk ditiupkan ke dalam mulut manusia yang sudah berbentuk agar dapat berbicara. Akhirnya, dari proses tersebut jadilah sepasang manusia pertama, yang bernama Futi (istri) dan Tuha Barege Dano (suami). Futi dan Tuha Barege Dano (Tuha Ba Wondrege Tano; Tuha Orudua Zihono) mendiami dunia ke-3. Keturunan merekalah yang kemudian mendiami dunia lainnya. Dunia ke-4 didiami oleh Golu Mbanua. Dunia ke-5 didiami oleh Tarewe Kara. Dunia ke-6 didiami oleh Hulumogia. Dunia ke-7 didiami oleh Dundru Tano dan istrinya, Saota. Dunia ke-8 didiami oleh Sirao. Keturunan Sirao inilah yang kemudian menciptakan dunia.[4]
3.    Versi Elio Modigliani
Modigliani membagi masyarakat Nias ke dalam tiga etnis besar, yaitu etnis di utara, etnis di selatan, dan etnis di barat. Menurutnya, etnis di utara memiliki tubuh yang lebih kecil dengan otot lemah, berwajah bulat oval dan bermata kecil. Etnis di selatan memiliki tubuh yang lebih proposional, yaitu bertubuh tinggi dan kuat, berwajah panjang, dan memiliki mata yang lebar, hitam, menyala, dan kebanyakan sipit. Etnis di barat (di gunung Buruasi dan di pantai utara Lafau) memiliki tubuh yang lebih tinggi, rambut yang lebih bergelombang dan sedikit keriting dari pada kedua etnis sebelumnya, hidung seperti burung elang yang memperlihatkan profil tajam dengan mata hitam dan kebanyakan horisontal; seperti orang Aceh. Modigliani menunjukkan bahwa etnis Nias tidaklah berasal dari etnis batak, melainkan dari Indostan (negeri-negeri di sebelah Timur Laut India).[5]
4.    Penelitian pada Milenium ke-2
Menurut Reinhold Mittersakschmoller, masyarakat Nias mengakui bahwa mereka adalah keturunan dari leluhur yang berbeda-beda. Mereka meyakini dirinya sebagai keturunan Sirao, Allah Pencipta. Nama kecil mereka adalah Hia, Gozo, Hulu, dan Daeli. Awalnya, Sirao mengutus anaknya yang bernama Hia ke selatan Nias. Namun karena barang bawaan Hia terlalu berat, dikhawatirkan Nias akan terjungkir ke dalam laut. Agar hal itu tidak terjadi, maka Sirao mengutus anaknya yang bernama Gozo ke sebelah utara. Situasi semakin gawat karena tengah Nias menjadi melengkung ke atas. Dunia baru seimbang setelah Hulu dan Daeli diutus ke tengah pulau dan menetap di sana.
Saat turun ke dunia, anak Sirao yang bernama Hia membawa rumah, alat ukur, timbangan, dan ukuran babi. Daeli membawa ubi jalar, satu batu asah, dan api. Hulu membawa tidak membawa barang penting ke dunia, namun kelak dia menduduki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Nias. Posisi ini dia dapat setelah dia bersin di jendela dan kehilangan kepalanya. Kepalanya tumbuh menjadi pohon kelapa dan darahnya tumbuh menjadi rerumputan dan pepohonan. Zebua, yang hanya dikenal di beberapa daerah selatan, menciptakan fungsi-fungsi imam di dunia.
Bagi masyarakat Nias, Sirao dianggap sebagai tuan di langit ke-8 yang juga disebut sebagai Teteholi Ana’a (dunia atas yang terdiri dari emas). Sirao memiliki keturunan laki-laki dari ketiga istrinya. Salah satunya melahirkan Ba’uwo Dano, Lakindro, dan Luo Mewona. Dan yang lainnya melahirkan Lasore, Gozo, Hia, Lahari, Daeli, dan Hulu. Ketika Sirao memutuskan untuk mencari penggantinya, semua putranya ingin menerima jabatan tersebut. Karena itu, Sirao memutuskan untuk mengadakan kompetisi untuk mencabut sebatang tombak yang dia tancapkan. Bagi yang berhasil akan menjadi pengganti dirinya. Ba’uwono, anak sulung Sirao, gagal dan harus pindah ke dunia bawah dan memikul dunia. Putra lainnya, yaitu Hulu, Daeli, Hia, dan Gozo, juga gagal sehingga harus turun ke dunia dan menjadi leluhur manusia. Hanya Luo Mewona yang berhasil melaksanakan tugas dari Sirao, ayahnya, sehingga berhak menggantikan posisi Sirao dan menetap di Teteholi Ana’a.[6]
5.    Versi James Danandjaja
Mite ini adalah mite mengenai terjadinya mado-mado di Nias. Mado adalah semacam marga (patrilineal maximal lineage). Ceritanya dimulai dengan terciptanya alam dan seluruh isinya oleh Lowalangi. Lowalangi juga menciptakan langit berlapis sembilan. Setelah selesai menciptakan semuanya itu, kemudian ia menciptakan sebuah pohon kehidupan yang bernama pohon Tora’a. Pohon itu berbuah dua, yang setelah dierami oleh seekor laba-laba emas, menetaslah sepasang dewa pertama di alam semesta yang diberi nama Tuha Mora’a Angi Tuha Mora’a Ana’a (laki-laki) dan Burutirao Angi Burutirao Ana’a (perempuan). Keturunan sepasang dewa ini lah yang kemudian mendiami sembilan lapis langit. Untuk menciptakan sesuatu itu, Lowalangi menggunakan udara diberbagai warna sebagai bahannya. Warna-warna itu diaduk dengan tongkat yang disebut sihai.
Salah satu keturunan dewa pertama yang bernama Sirao menjadi raja di langit pertama, yaitu yang letaknya paling dekat dengan bumi. Nama langit pertama itu adalah Teteholi Ana’a. Sirao mempunyai tiga orang istri dan dari masing-masing istrinya ia mendapatkan tiga orang anak laki-laki. Kesembilan anak Sirao bertentangan saat Sirao ingin mengundurkan diri dari kekuasaannya. Untuk mencegah kekacauan, Sirao mengadakan sayembara ketangkasan menari di atas mata sembilan tombak, yang dipancangkan di atas lapangan. Sayembara itu dimenangkan oleh Luo Mewona, si bungsu, sehingga ia berhak menggantikan ayahnya di Teteholi Ana’a.
Untuk menentramkan anaknya yang lain, Sirao mengabulkan permohonan mereka untuk diturunkan ke Tano Niha (tanah manusia). Untuk mengawasi tingkah laku kakak-kakaknya, Luo Mewona menurunkan Silogu, putra sulungnya, dan Hiambanua Mandrehe ke Ulu Moro’o, yaitu wilayah di kecamatan Mandrehe, Nias Barat sekarang.
Dari kedelapan anak Sirao, hanya empat orang yang dapat diturunkan dengan selamat dan menjadi mado-mado masyarakat Nias sekarang. Mereka ini adalah:
a.    Hiawalangi Sinada atau biasa disebut Hia saja. Dia diturunkan di Boronadu, kecamatan Gomo, Nias Tengah, dan menjadi leluhur mado-mado Telaumbanua, Gulo, Mendrofa, dll.
b.    Gozo Hela-hela Dano atau biasa disebut Gozo saja. Dia diturunkan di barat laut Hilimaziaya, kecamatan Tuhemberua, Nias Utara, dn menjadi leluhur mado-mado Baeha.
c.    Daeli Bagombalangi atau biasa disebut Daeli saja. Dia diturunkan di Tolamaera, negeri Idanoi di kecamatan Gunung Sitoli, Nias Timur dan menjadi leluhur mado-mado Gea, Daeli, Larosa, dll.
d.   Huluboronadu atau biasa disebut Hulu saja. Dia diturunkan di Laehuwa, kecamatan Alasa, barat laut Nias dan menjadi leluhur mado-mado Ndruru, Bu’ulolo, Hulu, dll.
e.    Silogu, putra sulung Sirao, diturunkan di Nias Barat menjadi leluhur mado-mado Zebua, Bawo, Zega, dll.[7]
Keempat putra Sirao yang lain, mengalami kecelakaan sewaktu proses nidada (turun ke Tano Niha) sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar. Bauwadano Hia (atau disebut juga Latura Dano) tubuhnya terlalu berat, sehingga terus menembus bumi dan menjelma menjadi ular besar yang disebut Da’o Zanaya Tano Sisagoro atau Da’o Zanaya Tano Sebolo, yang berarti Dialah yang menjadi penadah bumi. Jika timbul peperangan dan darahnya merembes ke bumi, ia akan menjadi sangat marah. Ia akan menggoyang-goyangkan tubuhnya sehingga terjadilah gempa bumi. Untuk menghentikannya, masyarakat Nias akan berteriak “Biha Tuha! Biha Tuha!”, yang berarti “Sudah nenek! Sudah nenek!”. Ucapan itu diserukan dengan maksud bahwa mereka telah sadar dan tidak akan membunuh lagi.
Gozo Tuhazangarofa tercebur ke dalam sungai karena rantainya putus saat dia diturunkan ke bumi. Selanjutnya dia menjadi dewa sungai dan dipuja para nelayan karena dialah penguasa ikan-ikan. Lakindrolai Sitambalina tersangkut di pohon karena saat diturunkan dia tidak jatuh ke bumi, melainkan melayang-layang terbawa angin dan akhirnya menjelma menjadi Bela Hogu Geu, yaitu dewa hutan, yang menjadi pujaan para pemburu. Sibungsu yang bernama Sifuso Kara diturunkan ke bumi dan jatuh di daerah bebatuan, daerah Laraga sekarang, dan menjadi leluhur orang-orang yang memiliki kesaktian kebal.[8]

B.  Tradisi Lisan Masyarakat Nias
1.    Keyakinan tentang Dewa
Ada dua dewa yang dipandang penting, yaitu lowalangi, dewa alam atas, sumber segala yang baik, dan laturedano, dewa alam bawah, yang pada umumnya lebih menampakkan aspek-aspek yang negative.
Lowalangi dipandang sebagai dewa yang terpenting. Ada banyak doa, mantra, sumpah, dan kutukan yang bersandar pada lowalangi dan kekuasannya. Ia menentukan hidup dan mati manusia, memberikan berkat dan kutuk, kekayaan dan kemiskinan. Dialah yang menetapkan dan yang memberhentikan kepala-kepala suku. Ia berada dimana-mana dan mengetahui segala sesuatu, serta menghukum yang jahat.
Lature dano menyebabkan adanya penyakit, kematian, gempa bumi, angina ribut, dll. Akan tetapi semua itu tidak menambah arti di dalam kehidupan religious suku nias.[9]
2.    Keyakinan tentang Mite Penjadian
Mengenai hal ini terdapat cerita-cerita yang sangat kompleks. Akan tetapi, semua cerita menceritakan bahwa lowalangi dan laturedano diciptakan, artinya sebelum mereka sudah ada tokoh dewa yang lebih tinggi.
Bagian pertama mite, yang dimiliki semua sumber, menyebutkan bahwa pada awal mula yang ada adalah kekacauan (chaos), kabut dan gelap. Dari kekacauan itulah timbul tokoh dewa yang pertama. Selanjutnya mite-mte itu berbeda satu sama lain.
1)   Mite dari Nias Utara
Dari kabut dan kegelapan itu timbullah sebagai tokoh dewa pertama, tuha sihai, yang digambarkan berdiam di alam yang tidak lebih besar dari sebuah rumah dan didukung oleh angin. Inilah alam yang pertama aau alam yang paling atas, yang juga disebut langit yang tertinggi.
Setelah Sihai meninggal dari napasnya timbullah alolowa nangi yag kemudian juga meninggal. Dari otaknya dilahirkan pohon-dunia (tora’a). dari bagian pohon atas, tengah dan bawah tumbuhlah tiga taruk. Dari taruk yang atas lahirlah lowalangi dan lature dano dan dua roh jahat, nadaoya dan afokha. Dari taruknya yang tengah lahirlah dua roh baik dan satu roh yang jahat. Dari taruknyayang bawah tidak ada yang dilahirkan.
Dengan dibantu oleh roh-roh yang baik, lowalangi dan lature dano bermaksud menciptakan manusia. Latue dano tidak berhasil menunaikan tugasnya, tetapi lowalangi dapat menghidupak manusia. Pasangan manusia pertama ini hidup dilangit ketiga. Sesudah enam angkatan, lahirlah sirao yang hidup dilapisan langit yang kedelapan, yang berada persis diatas dunia kita ini.
Menurut mite ini sirao adalah seorang manusia. Sekalipun demikian ia dipandang sebagai pencipta dunia yang sebenarnya dan sebagai nenek moyang manusia.[10]
2)   Mite dari Nias Selatan
Pada awal mula belumada bumi dan dunia; yang ada adalah kabut. Kabut ini kemudian memecah diri, sehingga lahir inada samihara luwo (inada=ibu kita). Ialah yang menyebabkan adanya penjadian dunia.
Tubuhnya memecah diri. Lalu lahir ibu-suku dari dewa-dewa dan umat manusia, yaitu inada samadulo khosi. Ia tidak bersuami. Sekalipun demikian ia melahirkan dua pasang anak kembar, yaitu laturedano towe dan adik perempuannya, yang kemudian dikawininya, dan sabolo luwe gogomi dan adik perempuannya yang juga kemudan dikawini. Sabulo luwe gogomi ini adalah nama lowalangi ketika ia masih muda. Lowalangi memilih alam atas sebagai tempat kediamannya, sedang laturedano memilih alam bawah.
Lowalangi menyatakan bahwa ia adalah yang tertua dan terkuasa diantara mereka. Hal itu menyebabkan kedua saudara ini mengadu kekuatan. Lowalangi melempar bukit-bukit karang kea lam bawah selama Sembilan hari. Akan tetapi lature dano tidak menderita apa-apa. Sesudah itu laturedano menggoyang dunia dengan segala kekuatannya, sehingga rumah kediaman lowalangi runtuh. Demikianlah lowalangi harus mengakui keunggulan lature dano dan mengakuinya sebagai yang tertua.
Kemudian lowalangi kawin dengan anak perempuan lature dano sebagai istri kedua. Anak yang lahir dari perkawinan ini berbentuk bulat tanpa anggota tubuh. Oleh karena itu anak ini di iris menjadi dua bagian dengan pisau. Bagian pertama dilepar kesebuah sumber dan bagian yeng kedua dilemparkan ke muara sungai. Bagian yang jatuh di sumber manjadi seorang peempuan sedang bagian yang jatuh di muara sungai menjdai seorang lelaki. Keduanya kemudia bertemu dan kawin, serta menjadi nenek moyang umat manusia.
Hal yang patut diperhatikan di dalam mite penjadian mite penjadian nias selatan ini ada dua hal, yaitu penjadian dianggap berpangkal kepada seorang ibu tertua atau ibu-suku (ibu-asal), dan disini tidak ada gambaran tentang pohon-dunia seperti halnya mite penjadian nias utara.[11]
Masih ada mite yang lain mengenai penjadian ini. Suku nias sendiri menganggap diri mereka berasal dari empat bapak-asal. Nama-nama bapak-asal itu jika disingkat adalah hia, gozo, hulu, dan daeli. Kadang-kadang disebutkan bahwa ada enam bapak-asal. Jika demikian ceritanya, hia diganti oleh tiga orang anaknya.
Menurut ceritanya, penurunan manusia itu terjadi demikian. Pertama-tama hia dengan segala miliknya diturunkan di nias selatan. Akan tetapi, ternyata pulau nias (dunia) menjadi berat sebelah sehingga bagian selatan terjungkir kelaut. Untuk mengadakan keseimbangan, gozo diturunkan dibagian utara. Akibatnya lebih menyedhkan lagi karena bagian tengahnya berjendul, sedang bagian utara tenggelam dibawah permukaan laut. Hulu dan daeli kemudian diturunkan kebagian tengah. Demikianlah bumi menjadi rata.
Empat manusia yang diturunkan kebumi adalah anak sirao, yaitu tokoh yang berdiam dilapisan langit kedelapan, yang terletak persis diatas dunia tempat kediaman manusia. Sirao memiliki tiga orang istri, yang masing-masing meiliki tiga orang anak. Istri utamanya memiliki tiga orang anak, yang kadang-kadang dipandang sebagai tiga anak kembar, yaitu ba’uwa dano, lekindro, luwo mewona, sdang anak istri lainnya ialah lasore, gozo, dan hia serta lahari, daeli, dan hulu.
Ketika anak-anak itu sudah dewasa, sirao mencari penggantinya. Ia ingin mengundurkan diri (mati). Semua anaknya menganggap diri mereka cakap untuk menjadi pengganti. Mereka menimbulkan keributan di desa dan mengadu kepandaian memainkan senjata. Hal itu menyedihkan sirao. Untuk menentukan siapa yang diperkenankan menggantikannya, ia mengadakan sayembara. Ia menancapkan sebuah tombak pada hulu nya di tanah. Barang siapa dapat berdiri dan berjongkok di atas tombak itu seperti ayam jantan bertengger, dialah yang layak menjadi penggantinya.
Semua anaknya mencoba. Akan tetapi, hanya luwo mewona-lah yang berhasil. Oleh karena itu, dialah yang diperkenankan mengganti ayahnya dan tetap tinggal di alam atas. Nasib anak-anak sirao yang lain ialah ba’uwa dano tinggal di alam bawah ebagai penopang bumi, sedang hia, gozo, daeli, dan hulu menjadi bapak-asal manusia dan tinggal di alam tengah. Mite yang lain menceritakan demikian. Ada pertengkaran antara luwo mewona, ba’uwa dano, dan lekindro. Di dalam pertengkaran itu lekindro dipotong menjadi dua sebagian dimiliki luwo mewona dan bagian yang lain oleh ba’uwo dano. Anak sirao yang lain diperintahkan bersin. Ia bersin begitu kuatnya sehingga kepalanya lepas dari batang tubuhnya. Kepalanya itu menjadi pohon kelapa sedang darahnya menjadi rumput dan bermacam-macam pohon.[12]
Kesamaan hakikat dan nasib antara luwo mewona dan luwolangi disatu pihak serta ba’uwo dano dan lature dano dilain pihak sanga mencolok, sehingga orang harus berpendapat bahwa kedua tokoh itu adalah sama. Ternyata, di dalam salah satu nyanyian upacara kematian memang disebutkan bahwa luwo mewona sama dengan lowalangi. Di dalam kesusastraan nias, keduanya memang sering dipandang identic.
Jika laturedano (ba’uwa dano) dan lowalangi (luwo mewona) adalah anak-anak sirao dan hasil ciptannya, maka keduanya tidak mungkin mendahului sirao. Anehnya di dalam salah satu mite, anak-anak ini sering dipandang mendahului sirao.
Seorang tokoh penting di dalam alam kedewaan nias adalah silewe nazarata, seorang dewi yang dihubungkan dengan imamat di nias. Agaknya dewi inilah yang dipandang sebagai penyebab penjadian dunia sebenarnya.
Diceritakan, sirao menginginkan agar silewe nazarata kawin dengan luwo mewona (luwolangi). Akan tetapi silewe nazarata menolaknya. Penolakan ini mengakibatkan adanya gempa bumi sedemikian hebat sehingga beberapa desa dari alam atas tempat kediaman sirao yaitu teteholi, jatuh ke bawah. Karena bencana ini, silewe akhirnya mau kawin dengan lowalangi.
Desa-desa yang jatuh ke bawah tadi menjadi bumi. Lowalangi dan silewe nazarata kemudian mengumpulkan kotoran tubuhnya untuk dipakai meluaskan bumi. Dengan daya sihir, mereka mengubah lingkaran yang mendukung bumi menjadi seekor naga yang besar.
Silewe nazarata inilah yang memasukkan agama ke dalam dunia ini, artinya dialah yang memasukkan adat kebiasaan manusia untuk membuat patung dewa guna di sembah. Adapun ceritanya demikian. Pada suatu waktu manusia di ganggu oleh dewa-dewa dengan penyakit. Gangguan ni sedemikian rupa sehingga ada bahaya bahwa manusia mati semua. Sinoi, istri hulu, naik ke atas dan minta pertolongan kepada silewe nazarata. Silewe mengutus 30 orang anaknya ke bawah dalam wujud bermacam-macam kayu. Dari kayu itu, orang yang membuat patung-patung, yang akan dimasuki oleh roh anak-anak silewe. Sinoi diajar secara mendalam tentang segala seluk beluk imamat dan dijadikan imam yang pertama di bumi. Ia meneruskan ilmu yang dia miliki kepada orag lain sehingga ada banyak imam.[13]
Silewe nazarata adalah seorang tokoh yang sangat penting, karena ia dipandag sebagai pengantara antara lowalangi dan para manusia dan antara lowalangi dan lature dano. Ia juga dipandang sebagai teladan bagi imam orang nias. Sering disebutkan bahwa tempat kediaman silewe nazarata adalah di bulan, sekalipun tempat kediamannya yang resmi adalah di samping lowalangi di alam yang teratas. Karena kediamannya di bulan itu, ia sering dipandang sebagai dewi bulan.
Silewe nazarata juga dipandang berada dimana-mana. Ia adalah penolong manusia, dan sering dapat melakukan hal-hal yang mencelakakan. Oelh karenanya silewe juga sangat ditakuti. Ia memiliki lambing-lambang dan nama tambahan yang sangat banyak. Sering ia dihuungkan dengan alam atas dan dengan lowalangi, tetapi juga dengan alam bawah dan lature dano. Sekalipun ia di pandang sebagai seorang dewi, ia memiliki juga bentuk-bentuk penampakan yang menunjukkan sifat-sifat laki-laki. Agaknya sifat ambivalen yang kosmis ini (lambing alam atas dan lambing alam bawah) disebabkan oleh ambivalensi seksual.
Silewe nazarata digambarkan sebagai sebuah patung yang besar (lebih dari 2 meter), tanpa tangan dengan perhiasan kepala yang menunjukkan dengan sebuah sitr, atau sering sebagai sepasang tanduk, atau dalam bentuk kelamin laki-laki dengan buah dada perempuan, atau juga dalam bentuk kelamin perempuan yang di beri janggut dan kumis. Patung yang demikian itu biasanya berkepala dua.
Penempatan patung semacam itu dan perbuatan-perbuatan kultus yang dihubungkan dengannya agaknya hanya menjadi wewenang para imam dan para bangsawan. Jika ada bahaya atau bencana ynag besar yang mengguncang masyarakat, atau jika orang melakukan kesalahan-kesalahan yang besar, patung semacam itu didirikan.[14]
3.    Keyakinan tentang Jiwa
Ungkapan-ungkapan yang dipakai untuk mengungkapkan pengertian jiwa adalah noso dan bekhu. Noso dipandang datang dari dewa lowalangi atau dari salah satu bentuk penampakan dewa itu. Sesudah yang memiliki noso itu mati, noso kembali kepada lowalangi. Hakikat noso sering diuraikan sebagai napas, hidup, atau asa yang di alaminya.
Bekhu tampil jika orang sudah mati. Ia pergi kea lam orang mati. Dalam praktik nya, bekhu sama dengan bentuk eksistensi yang baru dari orang yang mati itu. Dengan demikian, keyakinan suku nias mengenai jiwa memiliki kesamaan dengan suku ngaju dan batak.[15]
4.    Keyakinan tentang Kekuatan Ghaib
Suku nias mengenal adanya eheha. Eheha adalah kekuatan yang berjiwa dan menjiwai, yang dapat diwariskan dari ayah kepada anak lelakinya. Sebenarnya eheha ini hanya berartibagi para pemimpin, itu pun laki-laki. Pada orang-orang yang tidak penting, tidak pernah terucap adanya eheha.
Jika oang penting yang memiliki eheha itu mati, anak laki-lakinya meletakkan mulutnya pada mulut sang wafat untuk menerima eheha nya, yang tampak seperti buih pada mulut sang wafat itu. Eheha menjadikan orang yang memilkinya bijaksana, cakap, berpengaruh, dsb.
Anehnya di nias selatan tidak ada pengertian mengenai eheha ini. Eheha sangat erat berhubungan dengan jiwa hidup atau noso. Dalam banyak segi, keduanya sering disamakan. Agaknya eheha harus dipandang sebagai suatu kualitas atau suatu potensi yang lar biasa dari noso, yaitu kekuatan noso yang paling dinamis dan paling jelas dapat dihayati.
Seperti yang sudah dikemukakan, eheha hanya tampak pada orang-orang yang tinggi mertabatnya, umpamanya para kepala desa atau suku, para imam dan para bangsawan. Eheha dapat tampak dalam hal-hal yang luar biasa, umpamanya kedaulatan, kehormatan, dsb. Akan tetapi eheha juga dapat tampak dalam hal-hal yang negative, umpamanya untuk mencelakakan orang lain dan sebagainya.[16]

C.  Upacara Keagamaan
Terdapat dua kelompok upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat suku Nias. Upacara ini mennjukkan betapa eratnya hubungan antara suku Nias dengan kebudayaan megalithikum, yaitu kebudayaan yang berciri pendirian bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Kedua upacara tersebut adalah: pesta jasa atau pesta kedudukan (owasa) dan pesta suku (boro nadu).
1.    Pesta Jasa (Owasa)
Tujuan pesta religius ini ialah untuk memperoleh kehormatan, nama, kedudukan, dan gelar. Jika pesta ini diselenggarakan oleh kaum bangsawan, pada kesempatan ini diadakan juga korban manusia dan pendirian suatu monumen megalitikum. Oleh karena itu, pesta-pesta ini diselenggarakan di luar desa. Jika pesta ini diselnggarakan oleh rakyat biasa, segala sesuatu dilakukan secara sederhana dan hanya diselenggarakanbagi masyarakat desa itu sendiri, tanpa mengundang tamu dari luar. Baik bagi kaum bangsawan maupun bagi rakyat jelata berlaku aturan, bahwa orang boleh mengadakan owasa segera setelah ia kawin. Segera setelah kawin, ia harus berusaha untuk mengumpulkan emas dan babi yang cukup untuk menyelenggarakan owasa yang pertama.
Di nias selatan ada kebiasaan untuk mulai menyelenggarakan owasa tingkat pertama dengan membuat anting-anting emas bagi istri. Dari kebiasaan ini jelaslah bahwa owasa dimaksud sebagai pemeberitahuan kepada umu tentang status atau kedudukan sosial dan pangkat yang baru, yang sudah dicapai oleh suami-istri itu dengana danya anting-anting emas tadi.
Tingakatan owasa kedua sudah barang tentu menuntu adanya perhiasan yang lebh berharga yang disesuaikan dengan gelar dan pangkat yang sudah dicapaipasangan tersebut. Salah satu hal yang dianggap sangat berharga adalah sebuah payung emas, yaitu payung sutra yang disulami dengan bunga-bungan emas. Bagi rakyat biasa terdapat lima tingkat pangkat atau kedudukan, sedang bagi kaum bangsawan terdapat 20 tingkatan atau lebih. Jika seorang bangsawan ingin mencapai tingkat tertinggi, ia harus mendirikan sebuah monumen megalit dan harus memenuhi syarat-syarat lain. Jika seorang bangsawan sangat kaya, ia diperkenankan menyelenggarakan lima tingkat, dari owasa sekaligus.[17]
Yang termasuk tuntutan owasa diantaranya adalah memamerkan kekayaan dalam bentuk barang-barang yang terbuat dari emas dan menghamburkan kekayaan miliknya dalam bentuk babi yang disembelih pada pesta ini dimakan. Kebanyakan daging babi itu ditempatkan di dalam keranjang yang digantungkan di halaman diantara kedua barisan rumah yang saling berhadapan dan biasanya daging itu dijatuhkan oleh anak-anak sehingga daging itu membusuk ditanah serta menjadikan tanah sangat licin. Selama upacara itu berlangsung, diadakan makan-minum, secara berlebihan. Bagi orang yang menyelenggarakan, owasa itu merupakan suatu gengsi untuk memberi sebanyak mungkin babi. Dalam tahap pertama biasanya sudah cukup dengan memberi 10 ekor babi, tetapi kadang-kadang sampai 50, 100, 300, dan 500 ekor atau lebih. Pendirian monumen batu megalit biasanya dilakukan pada berbagai macam kesempatan dalam kehidupan religi suku itu.[18]
Pendirian monument batu megalit biasanya dilaksanakan pada bermacam-macam kesempatan dalam hidup religi suku itu. Banyak monument mengalit yang sering dihiasi dengan gambar-gambar.
Pada waktu owasa, ada 3 macam monument batu besar yang penting, yaitu:
1.    Sebuah monolit (suatu batu) seperti menhir yang didirikan tegak, yang disebut jantan.
2.    Sebuah batu seperti dolmenyang mendatar, yang kebanyakan diberi kaki tiang-tiangnya kecil dan didirikan bagi kaum perempuan.
3.    Suatu kombinasi dari kedua monumes tersebut diatas, yaitu sebuah batu mendatar yang diberi sebuah lubang yang dapat di masuki sebuah batu monolit yang tegak. Hal itu dimaksud sebagai gambaran perkawinan, suatu penjelmaan dari kesatuan yang hakiki dari aspek laki-laki dan perempuan, yaitu totalitas manusia.
Monument yang demikian itu diletakkan pada pedati yang menggambarkan perahu dan diangkut ketempat monument itu akan didirikan. Orang yang menyelenggarakan pesta duduk diatas batu monument itu sambil meloncat kian kemari dengan memainkan pedang dan menancapkan benda atau layar di kanan kiri.[19]
Suatu monument lan yang patut diperhatikan adalah monument yang disebut saitambaru, yaitu suatu tiang bulat yang diberi beberapa pengait sebagai pengait beberapa pakaian. Hal ini diterangkan demikian barang siapa yang membuat perhiasan dari emas harus takut terhadap kutukan logam itu. Sebuah emas memiliki tabiat pembalasan, kelobaan, dan pembunuhan. Untuk menghindarkan diri dari hukuman emas itu, harus ada budak yang dikorbankan. Budak itu dibawa ketempat saitambaru didirikan. Kemudian budak itu diperintahkan untuk mengaitkan baju kutang emas, teropong emas, pedang emas, dan paying emas pada saitambaru itu. Jika hal itu sudah dilakukan, budak di penggal kepalanya. Kepalanya disentuhkan pada batu itu, lalu diletakkan diatasnya. Korban manusia ini mengingatkan kita pada pengayauan.
Monument batu tadi dihiasi dengan daun-daun kelapa yang menggambarkan sebuah pohon dengan perhiasan emas, yaitu pohon hidup. Tiang batu juga dipandang sebagai tiang korban yang menggambarkan pohon hidup.
Upacara owasa ini dengan jelas menunjukan bahwa begitu erat hubungan antara aspek-aspek religious, social kerumah tanggaan dan kesenian dari kebudayaan nias. Hubungan itu demikian erat sehingga mewujudkan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Juga tidak dapat disangkal bahwa pesta itu menampakkan aspek-aspek peperangan, yang memperhadapkan antara orang yang menyelenggarakan pesta dan para tamunya, sedangkan emas dan babi menggambarkan senjatanya. Peperangan ini masih sering diteguhkan dengan adanya peperangan semua. Dua kelompok yang antagonis, yaitu penyelenggara pesta dan tamunya, dihubungkan dengan dualism religious kosmis. Dengan bermaca-macam cara tampak hubungan antara para dewa dan penjadian serta perwakilannya di dalam pohon hidup.[20]
2. Pesta Boronadu
Pesta ini adalah puncak hidup kultus suku nias, sebab secara langsung pesta ini dihubungkan dengan penciptaan dan terjadinya suku nias.
Pesta ini diselenggarakan di tem,pat-tempat yang dipandang sebagai tempat nenek moyang dahulu turun dari alam atas dan sekaligus juga dipandang sebagai tempat kediaman pertama nenek moyang masing-masing kelompok.
Kata boro berarti suku, dasar, atau sebab. Jadi kata boronadu  berarti permulaan perbuatan suci, asal atau sumber tertua penyucian. Selain itu, boronadu adalah sebutan imam suku yang tertinggi, yang senantiasa berdiaman ditempat nenek moyang suku turun dari alam atas dan menyelenggarakan pesta boronadu.
Di nias selatan, suku memiliki 2 macam boronadu, yang satu untuk memuja nenek moyang yang bersifat laki-laki, sedang yang lain untuk memuja dewa nenek moyang yang bersifat perempuan. Keduanya memelihara sebatang pohon suci yang disebut fosi.
Boronadu tergolong kaum bangsawan. Mereka menggambarkan bangsawan tertua dan tertinggi. Mereka tidak perlu brperang. Oleh karenanya mereka tidak bersenjata. Akan tetapi jika ada salah seorang anggota keluarga boronadu terbunuh, semua rakyatnya harus mengumpulkan emas guna menebus pembunuhan itu.
Ditempat kediaman boronadu, yaoitu ditempat dahulu nenek moyang suku turun dari alam atas, didirikan sebuah kuil kecil dan beberapa objek kultus, atau didirikan sebuah patung nenek moyang sebagai peringatan bagi nenek moyang mereka.
Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu, agaknya adalah sebuah pohon suci yang disebut fosi tadi. Menurut keyakinan mereka, pohon ini ditanam oleh dewa bagi keselamatan manusia. Dengan sendirinya kita diangkatkan pada pohon-pohon hidup. Jika konon daun-daun itu rontok, bala penyakit akan berjangkit. Jika karena nagin ribut ada tangkai-tangkai pohon itu yang jatuh, hal itu menjadi alamat bahwa ada seseorang kepala suku besar yang akan mati, atau ada sebuah desa akan terbakar, atau ada bencana hebat lainnya. Jika pohon ini mati, seluruh umat manusia akan mati.
Jarak pesta boronadu yang satu dengan yang lain adalah tujuh, sepuluh, atau empat belas tahun. Peserta pesta ini adalah kelompok-kelompok atau cabang-cabang suku yang diturunkan dari suku tertua. Cabang suku yang demiian disebut ori, sebuah kata yang berarti lingkaran (gelang). Susunan dan fungsi ori sukar ditentukan. Yang termasuk ori adalah sekelompok (lingkaran) desa tetangga yang saling berhbungan karena perkawinan (terlebih-lebih bagi kaum bangsawan), dan yang mewujudkan suatu persekutuan kultus (umpamanya, owasa senantiasa dirayakan didalam batas-batas ori). Selain itu, ori juga merupakan suatu kesatuan territorial yang harus memenuhi tugas-tiugas kultus. Secara politis, masing-masing desa itu merdeka (dari empat atau enam suku yang tertua dapat ditimbul kira-kira 300 ori).[21]
Jalannya pesta boronadu adalah sebagai berikut. Berbondong-bondong orang mengunjungi pesta ini dengan pakaian yang indah. Akan tetapi pada pesta ini tidak dibagikan makanan. Segala permusuhan saat ini harus dihentikan.
Sebelum pesta dimulai, orang membuat patung manusia dan harimau yang pada hari pesta itu di arak ke tempat pesta dengan nyanyian dan tarian. Boronadu mengadakan koran sebagai penghormatannya. Sesudah itu, patung-patung tadi dilemparkan ke lembah yang ada airnya sebagai uang tebusan bagi jiwa manusia.
Sementara itu, orang melepaskan seekor babi di bawah pohon fosi. Sebelum dilepaskan, babi itu diberi makan nasi dan telur. Ini adalah pemberian makanan yang terakhir. Sesudah itu tidak seorang pun boleh memberi amkan pada babi itu. Juga babi itu juga tidak boleh di usir seandainya mencari makanan sendiri di halaman orang. Sesudah tujuh tahun lamanya babi itu berkeliaran, babi itu ditangkap oleh boronadu dan disembelih. Dagingnya di bagi-bagikan sedemikian rupa sehingga setiap desa yang dibawah pengawasan boronadu itu mendapat bagian. Kepala desa membagi bagian yang jatuh kepada desanya dan kepada para keluarga di desanya, sedangkan tiap keluarga membagikan bagiannya kepada tiap anggota keluarga untuk dimakan agar mereka dapat berkembang dengan sejahtera. Bagian-bagian daging itu biasanya menjadi sangat kecil, hampir sama dengan biji kacang atau lebih kecil lagi. Yang penting disini adalah khasiatnya.
Sebagai balasan, masing-masing keluarga mempersembahkan sebutir emas kepada boronadu. Pada perayaan berikutnya dilepaskan lagi seekor babi, demikian seterusnya.
Semua tindakan dalam pesta ini dihubungkan dengan kejadian-kejadian dalam mite penjadian. Tujuan pesta ini adalah mengungkapkan kematian, perusakan kosmos, dan kelahiran kembali serta pembaharuannya.[22]
Kematian diungkapkan dengan pengorbanan babi suci, sebab hal itu menggambarkan pembunuhan seluruh umat manusia. Perusakan kosmos diungkapkan dengan pelemparan patung ke dalam lembah sungai, yang menggambarkan alam atas dan alam bawah. Pada hari sebelum pesta dimulai, di adakan tari-tarian dan peperangan semu, yang jelas dihubungkan dengan dualism yang religious-mistis. Akhirnya kelahiran kembali dan pembaharuan di ungkapnkan dengan pelepasan babi suci, yang setiap kali dilepaskan hingga pesta berikutnya.
Mungkin arti pesta boronadu ini dapat dirangkum seperti berikut ini. Orang merasa perlu untuk menyatakan kepada tokoh dewa yang tertinggi, bahwa mereka merasa dan menghayati, bahwa dunia ini ada hubungannya dengan alam atas, bahwa kekuatan hidupnya datang dari atas, dan bahwa mereka akan kembali kesana, dan akhirnya bahwa mereka sangat girang diperkenankan hidup di bawah hukum-hukum hidup ini.

D.  Tradisi Masyarakat Nias
1.    Struktur Masyarakat
Pada umumnya masyarakat Nias memahami perbedaan antara kasta bangsawan (Si Ulu; Salawa) dan kasta masyarakat biasa (Sato). Ada juga yang melihat struktur masyarakat dalam tiga kasta, yaitu: bangsawan, masyarakat biasa, dan budak (Sawuyung; Harakana). Dan ada juga yang meliohat struktur masyarakat ke dalam empat kasta, yaitu: bangsawan, penasehat (Si Ila), masyarakat biasa, dan budak. Di Nias selatan sistem kasta sangat dipegang erat.[23]
2.    Perkawinan di Nias
Di Nias Selatan, seoarang si ulu tidak boleh menikahi sato karena akan kehilangan statusnya. Kejadian seperti ini biasa disebut dengan no moi ba zato yang berarti sudah menjadi rakyat biasa. Ada juga yang mengatakan bahwa ketidakbolehan ini karena si ulu adalah bagaikan seorang bapak (ama) dan ibu (ina) bagi masyarakat, sedangkan sato adalah seorang anak. Tidak mungkin orang tua menikahi anaknya. Beda halnya pada zaman dahulu, seorang si ulu yang sudah kawin dengan lawan jenis yang berkasta sama, boleh mempunyai istri lain dari kalangan sato untuk mengurusi rumah. Seorang si ulu juga boleh mengambil istri satu atau lebih dari kalangan sato apabila hendak mengambil hati masyarakat.[24]
3.    Lani; Langi
Tradisi lisan Nias banyak bercerita tentang langit (lani atau langi), tentang lapisan langit yang satu (lani si sara wenaita), tentang langit berlapis sembilan (lani si si wa wenaita), dan seseorang leluhur bernama Lani Sigoro (Satu Langit) atau Lani Sisagoro (langit yang satu ini). Tradisi Nias Selatan mengatakan bahwa nama sebenarnya bukanlah Lowalani, melainkan Lawalani, yang berarti (yang ada) di atas langit. Sampai saat ini, tradisi Nias Selatan masih menyebut lawa (atas) dan tidak seperti di Nias Utara yang menyebut ya wa.[25]
4.    Adu Pertama di Nias
Patung yang terbuat dari kayu, di Nias, pada umumnya disebut dengan Adu. Patung yang paling banyak adalah patung untuk mengenang orang tua yang telah meninggal, yang disebut dengan adu zatua (patung orang tua). Diceritakan, patung pertama di Boronadu terbuat dari besi, yang hilang dan digantikan dengan kayu. Mite tertua mengatakan bahwa ibu Silewe Nazareta di Boronadu membuat (iwowoi) dan menghidupkan (ifonoso) patung pertama dari kayu. Versi lain mengatakan bahwa Hia Walangi Adu adalah yang memulai dengan mengukir batu.[26]
5.    Penghormatan
Penghormatan sangat diperhatikan di Nias. Ajaran penghormatan mengatakan tentang adanya tiga lowalangi yang berbeda, yaitu: orang tua, paman (saudara ibu), dan yang di atas langit. Pesan (orisito) ayah sebelum meninggal merupakan perintah dan kewajiban bagi anak-anaknya. Si ulu selalu dipandang ayah dalam suatu desa.[27]
6.    Peti mayat
Di Nias Utara, mayat dikuburkan. Di Nias Selatan, mayat digantung pada pohon dan diikat dengan anyaman tua. Atau dengan memakai suatu tempat duduk sederhana yang terbuat dari bambu (sarambia). Mayat digantung pada salah satu cabang pohon dengan gaya duduk lalu dibiarkan seperti itu. Atau mereka mempersiapkan rak bambu atau kayu bulat dengan tinggi sekitar dua meter di hutan, lalu mayat dibaringkan diatasnya (lahare yawa).[28]



Wallahu a’lam bish-Shawab...

























DAFTAR  PUSTAKA

Hadiwijono, Harun. Religi Suku Murba. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
Harmmerle, Johannas Maria. Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi. Gunung Sitoli: Yayasan Pustaka Nias, 2001.
Hidayah, Zulyani. Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015.





[1] Zulyani Hidayah, Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), h. 57.

[2] Zulyani Hidayah, Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia..... h. 58.
[3] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi, (Gunung Sitoli: Yayasan Pustaka Nias, 2001), h. 31-34.
[4] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 35-37.
[5] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 42-43.
[6] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 43-46.
[7] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 73-74.

[8] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 75-76.
[9] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), h. 37.

[10] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 37.
[11] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 38.
[12] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 39-40.
[13] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 40-41.
[14] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 41-42.
[15] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 43.
[16] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 43-44.
[17] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 45-46.
[18] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba.....  h. 47.
[19] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba.....  h. 47-48.
[20] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba.....  h. 48-49.
[21] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba.....  h. 49-50.
[22] Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba..... h. 50-51.
[23] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 195-196.
[24] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 194-195.
[25] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 201-202.
[26] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 202.
[27] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 202-203.
[28] Johannas Maria Harmmerle, Asal-Usul Masyarakat Nias: Suatu Interpretasi..... h. 203-204.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar